Thursday, February 18, 2010

CPRO Dapat Restu Penundaan Bayar Obligasi Hingga Juni 2010

JAKARTA. Beban masalah yang menghimpit PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO) mulai terangkat. Perusahaan tambak udang ini berhasil mengantongi restu dari para kreditur untuk menunda pembayaran cicilan obligasi global hingga akhir Juni mendatang.
Albert Sebastian, Sekretaris Perusahaan CPRO, mengatakan perjanjian standstill atau penundaan pembayaran antara CPRO dengan pemegang obligasi Blue Ocean Resources telah menjadi efektif. "Karena telah disetujuinya perjanjian tersebut oleh lebih dari 50% pemegang obligasi Blue Ocean," katanya, dalam surat keterbukaan informasi CPRO, kemarin.
Perjanjian standstill ini mengikat kedua belah pihak dan berlaku hingga 28 Juni 2010. Nah, selama periode tersebut, CPRO sebagai induk usaha Blue Ocean akan menggelar negosiasi dengan para pemegang obligasi untuk merestrukturisasi kewajiban itu.
Albert memaparkan, selama CPRO melaksanakan kewajiban berdasarkan perjanjian standstill, para pemegang obligasi tidak akan melakukan tindakan apapun. Misalnya, pertama, menyatakan wanprestasi atau event of default. Kedua, meminta percepatan pembayaran utang pokok obligasi. Ketiga, mengeksekusi jaminan atau memulai proses pailit.
Para pemegang obligasi global Blue Ocean diwakili oleh kuasa hukum, O'Melveny & Myers LLP. Sementara CPRO menunjuk Houlihan Lokey, penasehat keuangan spesialis restrukturisasi, untuk mengkoordinasikan dialog antara CPRO dengan para pemegang obligasi.
Seperti diberitakan sebelumnya, Blue Ocean Resources gagal membayar bunga obligasi sebesar US$ 17,88 juta pada 28 Desember 2009. Total nilai obligasi itu sebesar US$ 325 juta dan dijamin penuh oleh CPRO dan anak usahanya. Surat utang itu diterbitkan pada tahun 2007 dna jatuh tempo 28 Juni 2012, dengan kupon sebesar 11%.
Hingga masa tenggang 30 hari berakhir, CPRO masih belum mampu melunasi bunga obligasi itu pada akhir Januari lalu. Pasalnya, kinerja keuangan emiten tersebut merosot tajam akibat tambak udang mereka terserang virus.
Akibatnya, Fitch Rating menurunkan peringkat utang CPRO dari C menjadi Restricted Default. Bahkan, sebelumnya Bursa Efek Indonesia telah menghentikan sementara (suspend) perdagangan saham CPRO sejak 8 januari hingga 18 Januari 2010.
Kemudian, sanksi suspend sempat dicabut. Tapi, saham CPRO kembali dibekukan sejak 1 Februari lalu hingga saat ini. Nah, setelah CPRO mengantongi persetujuan standstill dari pemegang obligasi, Albert meminta otoritas bursa mencabut suspend tersebut. Sehingga, saham CPRO dapat kembali ditransaksikan di lantai bursa.

Wednesday, February 17, 2010

Kepemilikan Saham Danatama dan Madani di ENRG Melonjak

JAKARTA. Aksi korporasi PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berupa penerbitan saham baru atau rights issue tampaknya tidak terlampau sukses. Buktinya, pasca rights issue, porsi kepemilikan saham para pembeli siaga (standby buyer) aksi korporasi itu meningkat. Dua pembeli siaga tersebut adalah PT Madani Securities dan PT Danatama Makmur.
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan, saat ini Danatama Makmur menguasai 6,15 miliar unit atau 15,1% saham ENRG. Padahal, sebelum rights issue, Danatama hanya menggenggam 2,5% atau 1,01 miliar saham.
Demikian pula dengan Madani Securities. Pasca aksi korporasi itu, Madani menguasai 5,78% atau 2,35 miliar unit saham, dari semula hanya sebanyak 0,09%.
Dus, saat ini komposisi kepemilikan saham ENRG berubah. Selain kedua pembeli siaga itu, ada satu lagi pemegang saham ENRG yang baru, yaitu Horus Capital Limited.
Horus merupakan perusahaan investasi yang berlokasi di Birmingham dan Moskow. Setelah rights issue, Horus menguasai saham ENRG sebanyak 6,08% atau setara 2,46 miliar unit saham.
Sayang, manajemen Energi Mega Persada belum mau berkomentar banyak mengenai hasil rights issue. Herwin Hidayat, Sekretaris Perusahaan ENRG, hanya menyatakan akan menjelaskan hasil rights issue melalui siaran pers, pada hari ini. "Kami masih menunggu laporan pelaksanaan rights issue dari Biro Administrasi Efek malam ini (tadi malam)," ujarnya kepada KONTAN, kemarin.
Seperti Anda tahu, Energi Mega Persada menawarkan saham baru sebanyak 26,18 miliar unit saham seharga penawaran Rp 185 per saham. Dari aksi ini, ENRG menargetkan perolehan Rp 4,84 triliun.
Dari total hasil rights issue itu, ENRG berniat menggunakan Rp 2,5 triliun atau 52,7% dana rights issue untuk membayar utang. Sebanyak Rp 1 triliun atau 20,95% untuk mengakuisisi 10% hak pengelolaan Blok Masela. Sisanya buat belanja modal.
ENRG berharap, pasca rights issue, rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) akan menyusut. Herwin bilang, pada Juni 2009, DER ENRG sebesar 1,8 kali. Usai melunasi utang, DER perusahaan ini akan menyusut menjadi 0,4 kali.
Pardomuan Sihombing, Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas, menduga, para pemegang saham ENRG enggan mengeksekusi hak pembelian saham baru ENRG. Sebab, harga saham rights issue ENRG di atas harga pasar.
Jalaran itu, kata Pardomuan, dua pembeli siaga rights issue ENRG harus memborong sebagian besar saham baru terbitan ENRG. Walhasil, "Kepemilikan investor yang tidak mengeksekusi haknya tentu terdilusi," ujarnya. Kemarin, harga saham ENRG senilai Rp 166 per saham, sedangkan harga penawaran saham baru sebesar Rp 185 per saham.

Tuesday, February 9, 2010

Grafik-Grafik Unik

BUMI
ENRG
IKAI
 
SULI
TMPI
TRUB

Wednesday, February 3, 2010

Right Issue Bakrie Sumatera Rp4,96 T Disetujui

JAKARTA - PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) telah mendapatkan izin dari pemegang saham untuk merealisasikan rencana right issue-nya dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang digelar hari ini.

"Pemegang saham menyetuji rencana perseroan untuk menambah modal sahamnya," kata Direktur Utama UNSP Ambono Janurianto usai RUPSLB di Hotel Nikko, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (2/2/2010).

Perseroan menawarkan saham dalam mekanisme Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) sejumlah 9,454 miliar saham dengan nilai nominal Rp100. Setiap saham dengan harga pelaksanaan Rp525 dengan total Rp4,963 triliun yang berasal dari saham portepel. Setiap pemegang saham mempunyai lima HMETD untuk membeli lima saham baru yang ditawarkan dengan harga penawaran Rp525.

Pada setiap 15 saham baru hasil pelaksanaan HMETD tersebut, melekat satu waran seri II yang diberikan secara cuma-cuma sebagai insentif bagi pemegang saham perseroan. Perseroan juga menerbitkan 630.316.155 waran seri II. Setiap saham dengan harga pelaksanaan Rp530 per saham sehingga seluruhnya berjumlah Rp334.067.562.150. Setiap satu waran seri II berhak membeli satu saham baru pada harga pelaksanaannya.

Dari dana right issue sebesar Rp4,963 triliun, sebesar 64,98 persen atau Rp3,160 triliun akan digunakan untuk peningkatan modal pada anak perusahaan tertentu untuk melakukan akuisisi perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit dan karet serta pengolahan oleochemical.

Kedua, sebesar 25,56 persen atau sekira Rp1,24 triliun akan digunakan untuk pengembangan usaha perseroan terutama terkait bisnis hulu seperti perkebunan. Ketiga, sekira 9,46 persen atau sekira Rp460 miliar akan digunakan untuk tambahan modal.

"Tidak seluruhnya dana hasil right issue kami gunakan untuk akuisisi. Kami juga mengalokasikan dana hasil right issue ini untuk pengembangan usaha perseroan, terutama yang terkait dengan bisnis hulu dan juga untuk tambahan modal kerja perseroan. Untuk keduanya kita alokasikan sekira Rp1,71 triliun," jelasnya.

Sedangkan waran seri II senilai Rp334 miliar akan digunakan perseroan sebagai cadangan dana untuk pelunasan obligasi senior secured notes yang akan jatuh tempo pada 1 November 2011. Standby buyer pada penawaran umum terbatas ini adalah PT Danatama Makmur.

Untuk right issue ini, tanggal efektif dari Bapepam pada 2 Februari, pencatatan dalan daftar pemegang saham yang berhak atas HMETD (record date) 12 Februari, distribusi HMETD 15 Februari, pencatatan HMETD dan waran seri II di BEI 16 Februari, perdagangan dan pelaksanaan HMETD 16-22 Februari, pembayaran teakhir 24 Februari, serta tanggal penjatahan 25 Februari.

Selain meminta izin untuk tambahan modal melalui right issue, RUPSLB juga mengagendakan perubahan anggaran dasar terkait dengan peningkatan modal ditempatkan dan disetor perseroan tersebut. RUPSLB juga akan memberi persetujuan untuk melaksanakan transaksi material sehubungan dengan rencana perseroan untuk melakukan akuisisi senilai Rp2,06 triliun.

Akuisisi tersebut melalui anak perseroan, yaitu PT Nibung Arthamulia untuk melakukan akuisisi atas saham-saham dalam PT Domas Agrointi Prima, PT Sawitmas Agro Perkasa, PT Sarana Industama Perkasa, PT Flora Sawita Chemindo, PT Domas Agrointi Perkasa dan PT Domas Sawitinti Perdana, serta melalui PT Grahadura Leidungprima untuk mengakuisisi saham-saham PT Monrad Intan Barakat, PT Julang Oca Permana dan PT Citalaras Cipta Indonesia.
(css)

Mbak Tutut Gugat MNC Rp 3,4 Triliun

Jakarta - Siti Hardiyanti Rukmana alias mbak Tutut, putri sulung almarhum mantan presiden Soeharto, menggugat PT Berkat Karya Bersama (BKB) dan PT Sarana Rekatama Dinamika (SRD), dua anak usaha PT Media Citra Nusantara (MNC) senilai Rp 3,4 triliun.

MNC dituding telah mengambil alih kepemilikan saham mbak Tutut di PT Televisi Pendidikan Indonesia yang dimiliki secara sepihak.

"Karena ada keganjilan saat pengambilalihan TPI oleh pihak tergugat," kata kuasa hukum Mbak Tutut, Harry Ponto sebelum sidang perdata di PN Jakarta Pusat, Jl Gajah Mada, Selasa (2/2/2010).

Menurut Ponto, keganjilan tersebut bisa dirunut jauh kebelakang, contohnya saat kepengurusan baru hasil RUPSLB 17 Maret 2005 ditolak Sisminbakum. Penolakan tersebut ditandai dengan Sisminbakum yang tidak dapat diakses notaris.

Pada waktu hampir bersamaan, digelar pula RUPSLB tandingan oleh PT BKB. Hasilnya, langsung dilaporkan ke Sisminbakum dan diterima secara online. "Ini kan aneh. Seperti ada sesuatu. Notaris kami tidak bisa mengakses, giliran BKB kok bisa," imbuh Ponto.

Alhasil, Depkum HAM mengakui kepemilikan TPI ditangan BKB daripada Mbak Tutut. Konsekuensinya, Mbak Tutut kehilangan hampir 75 persen sahamnya. Dengan gugatan ini, Ponto berharap pengadilan dapat mengembalikan kepengurusan TPI ke status quo, yakni hasil RUPSLB 17 Maret.

"Gugatan kami supaya dikembalikan kepada status quo. Juga gugatan material 1,4 triliun dan immaterial Rp 2 triliun" tukasnya.

Menghadapi gugatan tersebut, PT BKB menyatakan tidak gentar. Sebab, menurut kuasa hukum Andi Simangunsong,  PT BKB tidak pernah melawan hukum. "Tidak ada satupun perbuatan melawan hukum," ucap kuasa hukum PT BKB, Andi Simangunsong.

Harry Tanoe bantah serobot TPI dari Tutut

Jakarta - PT Berkah Karya Bersama (BKB) membantah kepemilikan saham PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (CTPI) dilakukan secara tidak sah dan melawan hukum.

"Tidak ada perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Berkah Karya Bersama," kata kuasa hukum Berkah, Andi Simangunsong, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (2/2).

Komentar itu menanggapi adanya gugatan yang dilayangkan Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut, lantaran tidak terima atas hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) TPI tertanggal 18 Maret 2005. Dalam RUPSLB tersebut, BKB dengan memegang Surat Kuasa (Power of Attorney) tertanggal 3 Juni 2003 melakukan perubahan jajaran direksi TPI sesuai tertuang Akta No.16 dan No.17.

Tutut pun bersikukuh bahwa RUPSLB yang sah adalah satu hari sebelumnya, yakni 17 Maret 2005, yang tujuannya untuk merombak jajaran direksi dan dewan komisaris TPI, yaitu Dandy Nugroho Hendro Mariyanto Rukmana selaku Dirut menggantikan Hidajat Tjandradjaja.

Keputusan tersebut kemudian dilaporkan ke Menteri Hukum dan HAM melalui fasilitas sistem administrasi badan hukum (Sisiminbakum) Departemen Hukum dan HAM. Tapi anehnya, fasilitas tersebut tidak dapat diakses sehingga anggaran dasar sebagaimana RUPSLB 17 Maret tidak dapat dimasukan.

Sehingga pengelolaan Sisiminbakum oleh PT Sarana Rekatama Dinamika (SRD) yang kepemilikan 99 persen sahamnya milik PT Bhakti Asset Management, yang tak lain perusahaan milik Harry Tanoesoedibjo.

Menurut Andi, keputusan RUPSLB 18 Maret 2005 itu bagian dari perjanjian invesment agreement tertanggal 23 Agustus 2002 antara BKB dengan Mbak Tutut, sehingga tidak ada masalah dengan itu.

"Sesuai perjanjian itu, Berkah melakukan restrukturisasi TPI dan sejalan dengan itu Berkah berhak atas 75 persen saham TPI," katanya.

Friday, January 29, 2010

Realisasi Pembelian Kembali Saham BMTR

Menunjuk surat Perseroan tertanggal 4 Januari 2010 mengenai pembelian kembali saham (buyback) PT Global Mediacom Tbk. (BMTR) untuk periode 5 Januari s/d 5 April 2010. Pada tanggal 15 s/d 19 Januari 2010 Perseroan telah melakukan realisasi buyback sebagai berikut:

Tanggal Transaksi
Jumlah Maksimal Pembelian Kembali Modal Disetor
Total Saham Yang telah dibeli kembali dalam periode ini
Harga Saham
(Rp)
Jumlah dana yang telah digunakan dalam periode ini(*) (Rp)
Sisa Jumlah Dana Maksimal Pembelian Kembali
(Rp)
15-Jan-10
20%
7,500,000
240
1,804,500,000
291,753,873,593
18-Jan-10
20%
5,050,000
250
1,265,656,250
290,488,217,343
19-Jan-10
20%
493,000
245
121,086,963
290,367,130,380
9,507,000
250
2,382,691,875
287,984,438,505
Jumlah
22,550,000

5,573,935,088

*) termasuk biaya perantara pedagang efek dan biaya lainnya sehubungan dengan pembelian kembali saham

Wednesday, January 27, 2010

BMTR : Hary Tanoe siapkan akuisisi US$300 juta

JAKARTA: Konglomerat Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo akan mengakuisisi tambang emas, migas, batu bara, asuransi hingga perusahaan konten media dengan total hingga US$300 juta pada semester I/2010.

Aksi korporasi itu dilaksanakan melalui induk perusahaan investasinya, yaitu PT Bhakti Investama Tbk dan induk perusahaan media yakni PT Global Mediacom Tbk.

Hary berencana mencari pinjaman bilateral berkisar US$150 juta atau separuh dari total investasi akuisisi tersebut.

Langkah akuisisi tersebut seiring dengan visi Hary untuk memperkuat posisi Global Mediacom sebagai perusahaan media di kawasan regional dan Bhakti Investama sebagai perusahaan investasi di tingkat regional ke depan.

"Sepanjang 2002-2009, saya fokus menata fondasi dan memfokuskan Global Mediacom menjadi perusahaan media. Tahun ini, saya akan aktif kembali melaksanakan akuisisi dan merger. Kebutuhan dana seluruhnya berkisar US$200 juta-US$300 juta," ujar Hary, kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Dia memaparkan Bhakti berencana menambah portofolio bisnis dan menggandeng pihak lain sebagai operator. Langkah Bhakti sebagai perusahaan investasi itu didukung oleh posisi finansialnya yang kuat yaitu ekuitas senilai US$600 juta.

Hary yang merupakan Group President & CEO Bhakti Investama dan Global Mediacom itu mengatakan kebutuhan dana itu nantinya akan ditanggung renteng antara pinjaman bilateral dan kas internal Bhakti Investama atau Global Mediacom.

Aksi akuisisi


Selanjutnya, dia memaparkan rencana akuisisi tersebut, yaitu pertama, perusahaan konten media Singapura senilai Rp100 miliar-Rp200 miliar. "Kami akan melakukan due diligence atas akuisisi perusahaan konten media Singapura itu mulai pekan depan," katanya.

Kedua, Bhakti Investama sudah menandatangani perjanjian jual beli dengan perusahaan batu bara dalam negeri dan akan difinalisasi pada semester I/2010.

Ketiga, Bhakti Investama juga mengincar perusahaan tambang emas dalam negeri dan sudah melaksanakan uji tuntas terhadap perusahaan itu.

Keempat, Bhakti Investama mengincar dua perusahaan tambang migas dalam negeri, di mana satu perusahaan migas sudah berproduksi dan satu perusahaan migas lagi masih tahap eksplorasi.

Kelima, Bhakti Investama akan mengakuisisi dua perusahaan asuransi dalam negeri, yaitu satu perusahaan asuransi umum dan satu perusahaan asuransi jiwa.

Kepala Riset PT BNI Securities Norico Gaman mengatakan langkah akuisisi guna menambah portofolio bisnis Bhakti tersebut dinilai prospektif dan dapat berkontribusi positif bagi perseroan.

"Akuisisi ini tepat. Pertumbuhan ekonomi dunia mendorong kebutuhan komoditas pertambangan. Selain itu, populasi Indonesia yang sangat besar prospektif bagi pertumbuhan bisnis konten dan asuransi," ujar Norico. (sylviana.pravita@bisnis.co.id)

Oleh Sylviana Pravita R.K.N.
Bisnis Indonesia

Monday, January 18, 2010

BMTR : Grafik TA

Title : BMTR (250) – Trading BUY

Break Resistance jangka panjang, dan confirm melakukan trend reversal dengan volume
yang besar.. MACD line mulai menguat memasuki area positif. Target Resistance BMTR
berada pada area 280. Investor dapat melakukan aksi beli untuk jangka pendek pada
saham ini, memanfaatkan momentum kenaikan.
Trading Range : 250 -280

Friday, January 15, 2010

Grup MNC Akuisisi 50% Saham Letang Game

Linktone Ltd, anak usaha PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), mengakuisisi 50,01% saham Letang Game Ltd, perusahaan asal Tiongkok yang mengembangkan mobile game dan PC online game.

Linktone yang merupakan perusahaan media dan hiburan di Tiongkok akan membayar US$ 9,15 juta atau sekitar Rp 87 miliar untuk menuntaskan transaksi pengambilalihan Letang Game. “Linktone telah membayar US$ 2,56 juta. Sisanya akan dilunasi sepanjang 2010 dan 2011, apabila Letang Game mencapai target keuangan tertentu,” jelas Hary Tanoesoedibjo, CEO Linktone sekaligus CEO Grup Media Nusantara Citra (MNC), dalam keterangan resminya, Kamis (14/1).

Harry menegaskan, akuisisi Letang Game termasuk salah satu prioritas Linktone untuk mempercepat pertumbuhan perseroan, sehingga memberikan keuntungan bagi pemegang saham. Saat ini, Letang Game mengembangkan aplikasi mobile game untuk Flash, Symbian, KJava, Android, BlackBerry, dan iPhone platform. “Letang adalah salah satu pelopor dalam mengembangkan permainan seluler di Tiongkok,” tuturnya.

Sementara itu, CEO Letang Game Xiaoqing Fan mengakui, langkah Linktone membeli 50,01% saham perseroan merupakan bentuk kemitraan yang bakal menguntungkan kedua pihak. “Kami bangga menjadi bagian dari Linktone dan berharap bisa memperluas pangsa pasar game di Tiongkok,” kata dia.

Linktone dan Letang akan bersinergi dalam keahlian dan kemampuan distribusi yang luas. Linktone yang mencatatkan sahamnya di Bursa Nasdaq, Amerika Serikat (AS) itu menjadi agen iklan eksklusif dan penyedia konten utama untuk Qinghai Satellite Television dengan jangkauan 276 juta pemirsa di 24 provinsi Tiongkok. Selain itu, perseroan menjadi agen iklan untuk Tianjin Satellite Television.

Sebelumnya, Media Nusantara Citra (MNC) telah mengakuisisi 57,1% saham Linktone senilai US$ 91,2 juta atau sekitar Rp 839 miliar. MNC melalui anak usahanya, MNC International Ltd telah mengeksekusi 25% saham publik Linktone dalam penawaran tender (tender offer) di AS. Nilai transaksinya sebesar US$ 22,8 juta.

MNC juga membeli 38% saham baru Linktone dalam penawaran umum terbatas (rights issue) perusahaan asal Tiongkok tersebut. Dari rights issue, MNC membeli 32,1% saham Linktone senilai US$ 68,4 juta.

Akuisisi itu telah mengubah susunan direksi Linktone. CEO Grup MNC Hary Tanoesoedibjo menempati posisi sebagai CEO Linktone. Hary Tanoe didampingi tiga rekannya yakni Felix Ali Chendra, Sutanto Hartono, dan Agus Mulyanto di dewan direksi.

Hary Tanoe pernah mengatakan bahwa akuisisi Linktone merupakan bagian dari ekspansi MNC di bidang layanan konten dan media di kawasan regional. Tiongkok merupakan pasar iklan terbesar di dunia.