Thursday, April 22, 2010

2010, PTBA Bagi Dividen Rp 533 Per Saham

PT Tambang Bukit Asam Tbk (PTBA) akan membagikan dividen final sebesar Rp 1,228 triliun atas laba bersih tahun 2009. Besaran dividen per saham adalah Rp 533 per saham. Pembagian dividen dijadwalkan pada 15 Juni 2010.

Demikian hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang terselenggara di Hotel Ritz Calton, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Rabu (21/4/2010).

Dari seluruh pemegang saham yang hadir, sebanyak 99,98% telah menyetujui pembagian dividen final tersebut. Total dividen tersebut mewakili 45% dari perolehan laba perseroan di tahun 2009 yang mencapai Rp 2,727 triliun.

Perseroan selama tahun 2009 mencatat pendapatan sebesar Rp 8,947 triliun, naik 23,98% dibanding tahun 2008 sebesar Rp 7,216 triliun, yang didorong oleh peningkatan harga pokok penjualan sebesar 11,34% menjadi Rp 4,104 triliun.

Laba kotor tercatat sebesar Rp 4,843 triliun, naik 37,19% dari tahun 2008 sebesar Rp 3,530 triliun. Beban usaha di tahun 2009 sebesar Rp 1,295 triliun, meningkat 25% dari sebelumnya Rp 1,036 triliun.

Pos pendapatan lain-lain juga meningkat tajam sebesar 282,87% menjadi Rp 217,039 miliar dari sebelumnya Rp 56,687 miliar. Setelah dikurangi pajak-pajak, PTBA mencatat laba bersih tahun 2009 sebesar Rp 2,727 triliun, naik 59,75% dari sebelumnya Rp 1,707 triliun.

Laba per saham menjadi Rp 1.184 dari sebelumnya Rp 741 per saham.

Wouw...APOL Cetak Rugi 7.043%

PT Arpeni Pratama Ocean Line Tbk (APOL) sepanjang sembilan bulan 2009 mencetak kerugian hingga 7.043% dari untung pada 2009 sebesar Rp8,083 miliar menjadi buntung Rp561,21 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan Arpeni yang disampaikan kepada BEI, Jumat (8/1) menyebutkan, kerugian ini akibat dari adanya rugi derivatif perseroan 76,77% dair Rp238,03 miliar kini membengkak menjadi Rp420,78 miliar.
Beban pajak penghasilan perseroan yang masih mencatat kerugian 5,98% dari Rp24,133 miliar menjadi Rp25,578 miliar. Pendapatan jasa pelayaran perseroan pun turun 30,01% dari Rp,846 triliun kini hanya Rp1,292 triliun, namun beban jasa perseroan sedikit berkurang 22,28% dari Rp1,333 triliun kini menjaid Rp1,036 triliun.
Laba kotor perseroan pun turun 50,12% dari Rp513,283 miliar menjadi Rp255,999 miliar. Sehingga laba usaha perseroan turun drastis dari Rp404,44 miliar kini Rp137,51 miliar.
Walaupun mengalami kerugian, perseroan masih mencatat untung rugi kurs sebesar Rp100,193 miliar atau naik 149,11% dari Rp40,219 miliar

TMPI (AGIS) 2009 Rugi Rp3,14 Miliar

PT Agis Tbk (TMPI) mencatatkan kerugian sebesar Rp3,14 miliar di 2009 setelah merugi Rp2,25 miliar di 2008.
Dalam laporan publikasinya ke BEI, Selasa (20/4) dijelaskan kerugian tersebut disebabkan kerugian selisih kurs yang dialami Perseroan pada 2009 sebesar Rp709,89 juta. Perseroan juga mencatatkan rugi usaha sebesar Rp17,27 miliar di 2009.
Penjualan bersih juga turun dari Rp450,19 miliar di 2008 menjadi hanya Rp323,66 miliar di 2009. Perseroan masih memiliki utang lancar senilai Rp306,06 miliar dan ekuitas Rp1,06 truiliun di 2009

Wednesday, April 21, 2010

Bakrie Sumatera (UNSP) Konversi Waran ke Saham

PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) menerbitkan saham hasil konversi Waran Seri I menjadi 166 saham.
Hal ini disampaikan Adi Pratomo Aryanto, Ph Kadiv Penilaian Perusahaan Sektor Riil dan Abdul Mun'im, Ph Kadiv Perdagangan Saham BEI dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (20/4).
Dijelaskan pelaksanaan konversi ini dilakukan pada 21 April 2010. Dengan konversi tersebut, saham UNSP seluruhnya yang tercatat di BEI sebanyak 13.242.739.438 saham. Sedangkan jumlah waran I UNSP yang masih tercatat di Bursa sebanyak 389.285.736 waran.

Bakrie Sumatera (UNSP) Akan Tuntaskan Akuisisi Domba Mas

PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) menegaskan tetap akan melakukan akuisisi terhadap Grup Doma Mas.
Hal ini disampaikan Harry M. Nadir, Direktur UNSP dalam keterbukaan informasinya ke BEI, Rabu (21/4). "Proses akuisisi sampai saat ini berjalan sesuai rencana Perseroan," ujarnya.
Dijelaskan SPA (Shares & Purchase Agreement) dengan pihak penjual atau Grup Domba Mas masih menyelesaikan beberapa hal, antara lain inventarisasi aset, proses restrukturisasi utang dengan kelompok kreditur, yaitu Bank Mandiri, Credit Suisse dan P&G. "Hingga saat ini sudah mendapatkan persetujuan awal. Namun masih perlu difinalisasikan dalam bentuk kesepakatan dengan kami," tukasnya.

Tuesday, April 20, 2010

Mandiri Pertanyakan Nasib Akuisisi Domas oleh UNSP

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mempertanyakan kelanjutan akuisisi aset Grup Domba Mas oleh PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP). Sebagai salah satu kreditur Domba Mas, Bank Mandiri menilai prosesnya berjalan lamban.
Padahal, sebelumnya, UNSP sempat menjanjikan proses akuisisi itu rampung pada bulan Februari-Maret 2010. "Saya tidak tahu kenapa prosesnya lambat," kata Agus Sudiarto, Senior Vice President Credit Recovery II Group Bank Mandiri, kepada KONTAN, kemarin (19/4). Maklum, bank plat merah tersebut ingin pemilik Grup Domba Mas segera melunasi utangnya kepada Mandiri.
Menurut sepengetahuan Agus, UNSP masih melakukan pembicaraan intensif dengan pemilik Grup Domba Mas. Namun, dia tidak mau mengungkapkan isi pembicaraan tersebut, serta faktor yang menjadi kendala penutupan akuisisi aset Grup Domba Mas.
Sumber KONTAN membisikkan, kreditur Grup Domba Mas, yakni Bank Mandiri, Credit Suisse, dan P&G, sudah memberikan persetujuan atas akusisisi tersebut. Ketiga kreditur ini pun setuju dengan proposal manajemen UNSP untuk merestrukturisasi utang pokok Domba Mas tanpa pembayaran tunggakan bunga.
Hasil rights issue
Sekadar informasi, jumlah pokok utang Grup Domba Mas kepada Credit Suisse sebesar US$ 151 juta, dan kepada P&G senilai US$ 40 juta, sedangkan US$ 78 juta kepada Bank Mandiri. Pembayaran pokok utang dicicil selama tujuh tahun dan baru dibayarkan pada tahun ketiga.
Harry Nadir, Direktur Keuangan UNSP, mengatakan bahwa proses akuisisi Domba Mas masih berjalan. "Tidak ada masalah," katanya, kemarin. Menurutnya, proses akuisisi menunggu perolehan dana dari hasil penerbitan saham baru atau rights issue pada awal tahun ini.
Padahal, proses rights issue UNSP telah rampung sejak awal Maret lalu. Steffen Fang, Vice President Investment Banking Danatama Makmur, selaku penjamin emisi rights issue UNSP, mengatakan, aksi korporasi itu sudah selesai. "Tanya ke Pak Harry saja. Kami sudah tidak ikutan setelah rights issue," tandasnya.
Lewat rights issue itu, UNSP melepas 9,47 miliar saham baru dengan harga penawaran Rp 525 per saham. Dari aksi korporasi ini, UNSP mengantongi dana segar Rp 4,97 triliun. Sebagian besar duitnya dialokasikan untuk membiayai akuisisi beberapa perusahaan oleokimia milik Domba Mas, seperti, Domas Agrointi Prima, Domas Agrointi Perkasa, dan Domas Sawitinti Perdana. Nilai akuisisinya mencapai Rp 2,2 triliun.
Namun, hingga saat ini, manajemen Bakrie Sumatra belum memberikan penjelasan mengenai penggunaan dana hasil rights issue yang telah dihimpun dari para pemegang saham.
Analis Bahana Securities Alfi Fadhliyah, dalam risetnya menulis, managemen UNSP menargetkan akuisisi Domba Mas bakal selesai Maret 2010. Dengan akuisisi ini, Alfi memperkirakan pendapatan UNSP tahun ini akan meningkat menjadi Rp 3,73 triliun. Artinya, tumbuh 60% dari tahun lalu. "Laba bersih UNSP juga diprediksi akan naik menjadi Rp 346 miliar," ujarnya.

Laba BMTR 2009 Turun 63,07%

Kinerja PT Global Mediacom Tbk (BMTR) pada 2009 lalu ternyata merosot. Laba bersih perusahaan media ini anjlok 63,07% dibandingkan 2008 silam.
Dalam laporan keuangan 2009 itu, laba bersih BMTR hanya sebesar Rp 157, 20 miliar. Sementara, keuntungan bersih pada tahun sebelumnya sebesar Rp 425,75 miliar.
Tergerusnya laba BMTR juga bukan karena selisih nilai tukar rupiah. Bahkan, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat memberikan keuntungan sebesar Rp 374,44 miliar tahun lalu. Sementara pada 2008 lalu, BMTR justru harus menanggung kerugian sebesar Rp 292,40 miliar.
Lantas apa yang membuat laba bersih BMTR tergerus? Merosotnya kinerja BMTR pendapatan berkurang terutama dari sektor telekomunikasi. Total pendapatan bersih 2009 hanya sebesar Rp 5,03 triliun. Bandingkan dengan 2008 silam, pendapatan bersih mencapai Rp 5,38 triliun.
Faktor lainnya adalah kerugian akibat pelepasan investasi dan pajak. Kerugian investasi mencapai Rp 109,08 miliar sedangkan beban pajak sebesar Rp 259,42 miliar.

Monday, April 19, 2010

Harga Karet Makin Lentur

Ditengah permintaan karet Indonesia yang cukup tinggi, musim hujan justru mengganggu produksi karet nasional. Itu sebabnya, harga karet Indonesia tersurung ke level yang paling tinggi dalam dua tahun terakhir ini.

Harga free-on-board (FOB) alias harga tanpa ongkos pengiriman dan asuransi untyuk karet jenis SIR-20 telah merangsek 20% menjadi US$ 3,35 per kilogram (kg) pada tahun 2010 ini. Asal tahu saja, harga ini terakhir terlihat pada tahun 2008 lalu.

Kontrak karet dari Indonesia mengikuti Bursa Komoditi Tokyo. Di Negeri Matahari Terbit itu, harga kontrak karet dunia juga sudah naik 21% pada tahun ini karena adanya sinyal yang menunjukkan bahwa suplai karet dari Indonesia maupun Thailand ridak akan mengimbangi peningkatan kebutuhan China.

Asril Sutan Amir, Umum Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) menyebutkan, dua faktor yang membuat harga karet Indonesia terkerek naik adalah rendahnya suplai bahan baku karet akibat curah hujan yang tinggi dan melonjaknya kebutuhan karet dunia. "Terutama permintaan dari China dan India," katanya kepada Bloomberg, akhir pekan lalu.

Tahun lalu, ekspor karet Indonesia ke China besarnya 25% dari 2 juta metrik ton karet yang dikapalkan ke pasar ekspor. Volume ekspor ke Negeri Panda ini terbilang melonjak. Pasalnya, tahun 2007 lalu ekspor karet Indonesia ke China hanya 12%.

Kuartal pertama tahun ini, pertumbuhan ekonomi Chinamembiak 11,9% pada kuartal pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Negeri Tirai Bambu ini tengah membutuhkan bahan baku karet yang cukup banyak untuk industri ban. Apalagi, per Maret 2010, penjualan mobil di China naik 76% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sepanjang minggu lalu, harga karet di bursa Komoditi Tokyo untuk pengiriman Mei 2010 menunjukkan peningkatan yang cukup drastis. Senin pekan lalu (12/4) harga karet 259,60 per kilogram, lalu terus meningkat pada pertengahan minggu di hari Rabu (14/4) ke level 361,40 per kilogram, dan ditutup di level 383,00 yen per kilogram pada akhir pekan lalu.

Tren yang serupa juga terlihat dari harga kontrak karet untuk pengiriman Agustus 2010. Setelah meninggalkan level 200-an yen per kilogram pada Kamis (25/3) di level 297 yen per kg, harga kontrak karet terus menguat pada bulan April ini. Kamis (15/4) lalu, harga kontrak karet menyentuh level 343,80 yen per kg, level yang paling tinggi sejak kontrak ini mulai diperdagangkan pada 23 Februari 2010. Hingga pada akhir minggu lalu, level ini juga enggan beranjak turun.

Sementara harga kontrak karet untuk pengiriman bulan ini naik 7,8% menjadi 412,10 yen atau setara US$ 4,451 per ton, sedangkan harga untuk pengiriman bulan September - bulan dengan kontrak perdagangan teraktif selama setahun - naik 1,1% ke posisi 338,5 yen per kg, ini merupakan level tertinggi sejak Juli 2008.

"Sentimen atas rendahnya produksi karet dari Thailand dan tekanan politik di negeri itu kemungkinan akan terus mendorong kenaikan harga karet," kata Suryadi Mulya, Direktur CV Dramaga, eksportir karet dari Bogor.
Beragam faktor
Tahun lalu, produksi karet alam Thailand mencapai 3,164 juta ton, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 3,09 juta ton. Melempemnya suplai yang diikuti melonjaknya permintaan dunia, khususnya China, India dan Malaysia, semakin membuat harga karet naik. Soalnya, konsumsi karet di tiga negara tersebut mencakup 45% dari total konsumsi karet dunia.

Produksi karet di Thailand memang tengah melempem sejak Februari hingga April 2010 lantaran penghabisan musim dingin. Berdasarkan faktor cuaca ini, pengiriman karet dari Thailand akan melambat hingga awal Juni mendatang. Selain itu, perseteruan politik nasional juga ikut melemahkan produksi karet Thailand.

Selain faktor alam dan tekanan politik di negara-negara penghasil karet, Sekretaris Jenderal Association of Natural Rubber Producing Countries (ANPRC) Djoko Said Damardjati menilai nilai tukar mata uang juga ikut mempengaruhi harga karet dunia. "Melemahnya dolar AS mendorong para eksportir menaikkan harga," katanya kepada Kontan.

Faktor lain yang ikut membentuk harga kontrak karet adalah pergerakan harga minyak. Joko menghitung, harga minyak sedikit naik, harga karet di bursa berjangka juga ikut terkerek naik akibat aksi spekulasi para hedge fund manager dan investor.

TBLA 2009 Cetak Laba Bersih Melejit 118,27%

Sepanjang 2009, PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) berhasil mencetak laba bersih 118,27% menjadi Rp138,244 miliar ketimbang 2008 hanya Rp63,336 miliar.
Demikian penjelasan resmi manajemen TBLA di Jakarta, Senin (19/4).
Pertumbuhan laba bersih ini didukung dari keuntungan kurs mata uang dari merugi pada 2008 sekitar Rp242,707 miliar menjadi untung sekitar Rp20,332 miliar. Pendapatan bunga pun meningkat 4,78% dari Rp8,593 miliar menjadi Rp9,004 miliar. Bukan hanya itu saja, perseroan pun berhasil menekan beban perseroan 137,29% dari Rp444,525 miliar kini menjadi Rp165,769 miliar.
Namun, pendapatan usaha perusahaan kelapa sawit ini turun 29,33% dari Rp3,955 triliun kini menjadi Rp2,783 triliun. Selain itu, utang usaha perseroan pun naik Rpdari Rp105,834 miliar menjadi Rp120,676 miliar, utang pajak pun naik dari Rp12,687 miliar menjadi Rp33,856 miliar.

Friday, April 16, 2010

BLTA 2009 Menderita Rugi US$ 285,876 Juta (Laba Turun 230,92%)

PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) menderita kerugian bersih sebesar US$285,876 juta dibandingkan perolehan 2008 yang untung sekitar US$218,364 juta.
Demikian penjelasan resmi manajemen BLTA dalam keterbukaan informasi BEI, Kamis (15/4).
Kerugian perseroan ini lantaran bertambahnya menderita kerugian kurs mata uang sekitar US$26,698 juta dibandingkan sebelumnya hanya US$17,286 juta, perubahan nilai wajar obligasi konversi dan wesel bayar mencapai US$196,420 juta dibandingkan tahun lalu perseroan berhasil meraih untung US$305,958 juta.
Kendatipun menderita kerugian, perseroan berhasil meraih untung dari transaksi derivtif sekitar US$148,898 juta ketimbang sebelumnya merugi US$163,179 juta, pendapatan investasi perseroan pun maningkar dari US$16,294 juta kini menjadi US$18,078 juta. Bukan hanya itu saja, laba bersih perusahaan asosiasi pun kini menjadi untung US$9,621 juta dibandingkan sebelumnya rugi US$18,524 juta.
"Namun, pendapatan usaha kami menurun sekitar 14,55% dari US$723,682 juta menjadi US$618,346 juta," ulas manajemen.
Perseroan mencetak penurunan instrumen keuntungan derivatif dari US$30,784 juta menjadi US$10,877 juta, utang bank pun turun drastis dari US$176,586 juta menjadi US$65,225 juta, serta utang pajak pun menurun dari US$1,606 juta menjadi US$957.000