Friday, October 16, 2009

PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) semakin mendunia di industri perkapalan

JAKARTA. Nama PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) semakin mendunia di industri perkapalan. Itu terjadi setelah mereka mengungkap rencana untuk mengakuisisi Camillo Eitzeb & Co. ASA (CECO), perusahaan perkapalan asal Norwegia.

BLTA akan mendanai akuisisi itu lewat hasil penerbitan Mandatory Exchange Bond (MEB) senilai US$ 368 juta. US$ 168 juta untuk membiayai akuisisi CECO, US$ 200 juta untuk membiayai belanja modal dan ekspansi usaha.

Bila akuisisi CECO berlangsung mulus, BLTA akan memiliki total 157 kapal tanker pengangkut bahan kimia, 14 kapal tanker minyak, dan lebih dari 60 bulk carriers.

Direktur Keuangan BLTA Kevin Wong yakin setelah mengakuisisi CECO, pendapatan BLTA akan meningkat hingga dua kali lipat pada tahun depan. Sebagai perbandingan, "Tahun ini pendapatan BLTA akan mencapai US$ 600 juta sampai US$ 700 juta," kata Kevin kepada Bloomberg, kemarin (15/10).

Kevin beralasan, setelah akuisisi nanti permintaan kapal untuk pengangkutan bahan kimia akan naik dalam dua tahun ke depan, terutama dari pasar Timur Tengah dan Eropa. Itu yang akan membuat kantong BLTA kian gemuk.

Rekomendasi beliAnalis Bhakti Securities Reza Nugraha bilang, akuisisi CECO itu akan menjadikan BLTA sebagai perusahaan perkapalan terbesar di dunia. Saat ini, BLTA sudah memiliki 104 kapal tanker minyak dan 63 kapal tanker kimia. Pangsa pasar BLTA pun akan meluas. "Akuisisi itu membuat BLTA bisa masuk Eropa," ujarnya.

Di dalam negeri, penerapan asas cabotage mulai tahun depan juga akan menaikkan pendapatan BLTA. Soalnya, BLTA termasuk perusahaan perkapalan yang paling siap menghadapi aturan tersebut. "Wajar saja apabila proyeksi pendapatan mereka naik dua kali lipat pada tahun depan," kata Reza.

Menurut Reza, untuk jangka panjang akuisisi CECO itu akan membuat pertumbuhan bisnis BLTA semakin laju. Hanya saja untuk jangka pendek aksi korporasi itu tidak menguntungkan investor publik BLTA. Sebab, dengan obligasi wajib tukar yang akan mereka terbitkan, kepemilikan saham publik bisa terdilusi hingga 40%.

Akhmad Nurcahyadi, Analis BNI Securities pun melihat pendapatan BLTA akan meningkat berlipat setelah mengakuisisi CECO. Namun, valuasi harga wajar saham BLTA tidak serta merta ikutan naik. Alasannya, jumlah utang BLTA juga akan meningkat.

Menurut hitungan Akhmad, tahun ini pendapatan BLTA akan tumbuh tipis 3,4% menjadi Rp 7,25 triliun. Tahun lalu, pendapatan BLTA mencapai Rp 7,01 triliun dan laba bersih Rp 1,5 triliun.

Adapun hitungan Reza, pendapatan dan laba bersih BLTA tahun ini akan naik 5% ketimbang tahun lalu menjadi masing-masing sebesar Rp 7,37 triliun dan Rp 1,64 triliun.

Reza masih merekomendasikan beli saham BLTA dengan target harga Rp 980 per saham. Alasannya, rasio harga atas laba per saham atau price to earning ratio (PER) sektor pelayaran sudah 3-4 kali. Adapun PER BLTA baru 2,2 kali.

Akhmad juga merekomendasikan beli saham BLTA dengan target harga Rp 900 per saham. Kemarin (15/10), harga saham BLTA berakhir di Rp 770 per saham, sama dengan sehari sebelumnya.

Thursday, October 15, 2009

BEI Minta MNC Jelaskan Putusan Pailit TPI

akarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) segera meminta PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) menjelaskan soal putusan pailit PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). BEI belum akan mengenakan suspensi pada MNCN.

"Kita akan segera minta klarifikasi kepada manajemen MNCN. Terutama untuk melihat seberapa berpengaruh hal ini pada kinerja mereka, serta seberapa material dampak putusan ini. Baru kita akan ambil tindakan kalau perlu," ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Eddy Sugito saat dihubungi detikFinance, Kamis (15/10/2009).

Pengadilan Niaga Jakarta Pusat telah memutuskan pailit pada TPI pada Rabu (14/10/2009). Putusan didasarkan pada bukti bahwa TPI masih mempunyai utang jatuh tempo senilai US$ 53 juta kepada Crown Capital Global Limited.

Sengketa utang ini muncul lantaran manajemen MNCN menyatakan sudah melunasi utang tersebut. Namun pengadilan menemukan bukti kalau Crown masih menjadi kreditur TPI yang mana utang tersebut belum dibayarkan.

Sayangnya, Direktur Utama MNCN, Hary Tanoesoedibjo ketika dikonfirmasi enggan menjelaskan duduk masalahnya secara lebih detail. "Nanti ada penjelasan resminya," ujarnya.
(dro/qom)

MNCN: Pengadilan Pailitkan TPI, MNCN Siap Kasasi

Pengadilan Niaga Jakpus mempailitkan PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (TPI)
karena terbukti memiliki utang jatuh tempo 24 Des96 kepada Crown Capital Global Ltd. senilai
US$53 juta. Olehkarena itu, MNCN siap mengajukan kasasi karena telah yakin telah melunasi
pembayaran utang tersebut pada 26 Des96. (bisnis/fz)

Friday, October 9, 2009

Saham-Saham PBV Rendah dan Cocok untuk Investasi

Menurut saya beli saham2 yg PBV rendah dan potensi Naik ke Depan sangat Cerah (for Invest Only) :
BMTR skrg Rp.285 BV=Rp.504 PBV=0.57x EPS=Rp.12/shm (Q2 2009)
BLTA skrg Rp.760 BV=Rp.1,714 PBV=0.70x EPS=Rp.271/shm (Q1 2009)
MNCN skrg Rp.265 BV=Rp.310 PBV=0.83x EPS=Rp.18/shm (Q2 2009)
CPRO Rp.80 juga OK tapi sedang lambat
KARK tunggu di Rp.100 aj
Saat ini saya hanya Focus 3 saham dulu (BMTR,BLTA,MNCN)

Kepemilikan Bakrie di Anak Usaha Tergerus

Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang dilaporkan ke Bursa, per 7 Oktober 2009, Bakrie hanya memiliki saham di atas 5% di dua anak usahanya, yaitu PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL).

Dari data KSEI yang disampaikan ke BEI kemarin disebutkan Bakrie memiliki 10,63% saham atau setara dengan 402,79 juta saham di UNSP, sementara Credit Suisse memiliki 11,35% (430 juta saham).

Di Bakrie Telecom Tbk (BTEL), Bakrie memiliki 18,24% saham atau sebanyak 5,19 miliar.

Sementara di anak usaha lainnya seperti PT Bakrieland Development (ELTY), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), dan bahkan Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) sendiri Bakrie tidak tercatat sebagai pemilik di atas 5% saham.

Dalam data tersebut tercatat kepemilikan ELTY di atas 5% adalah CGMI 1 Client Segregated Secs, USA yang memiliki 30,76% (6,126 miliar saham). Di ENRG yang tercatat memiliki saham di atas 5% adalah UBS Ag Singapore sebanyak 44,99% atau 6,47 miliar saham.

Sementara di BNBR pun Bakrie tidak tercatat sebagai pemegang saham di atas 5%. Yang tercatat sebagai pemilik saham di atas 5% adalah Credit Suisse dengan kemepilikan 21,61% atau setara dengan 20,25 miliar saham. [cms]

PT Mobile-8 Tbk (FREN) dikabarkan telah dijual kepada operator lain.

Menurut sumber INILAH.COM, Mobile-8 telah dijual kepada operator lain beberapa waktu lalu. Seperti dikabarkan, beberapa investor telah menyatakan minatnya untuk membeli Mobile-8 ini. Di antaranya, Qatar Telecom (Qtel) dan Grup Sinarmas yang telah memiliki operator CDMA yaitu Smart.

Sementara, pihak Mobile- 8 mengklaim tidak mengetahui transaksi jual beli saham mobile-8 kepada investor. Bila ada terjadi transaksi jual beli maka transaksi tersebut ada di pemegang saham Mobile-8.

Seperti diberitakan INILAH.COM sebelumnya, berdasarkan data BEI, struktur pemegang saham Mobile-8 per 30 Desember 2008, yakni Jerash Investment Ltd sebanyak 32%, PT Global Mediacom Tbk sebesar 19%], UOB Kay Hian Provate Limited sebanyak 13,29%, PT Bhakti Asset Management sebanyak 7,28%, dan Qualcomm Incoporated sebanyak 5,01%.

Diketahui, Global Mediacom Tbk, menjual 32% saham operator telepon itu kepada perusahaan private equity fund yang berpusat di Dubai yaitu Jerash Investment Ltd yang dipimpin oleh seorang CEO Shiv Dave. Namun, Jeras pun saat ini diketahui tidak memiliki saham Mobile-8 lagi. [cms]

MNCN

MNCN akan menerbitkan surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN) maksimal
Rp 500 miliar. Namun, tahun ini, induk usaha RCTI itu baru akan mengeksekusi penerbitan surat
utang Rp 250 miliar. Sebagian dana hasil penerbitan MTN itu akan digunakan untuk memperkuat
modal kerja MNCN. (Kontan/uth)

BLTA: Akuisisi Camillo Sebabkan Dilusi 25%

BLTA tahun depan akan menerbitkan saham baru untuk mengakuisisi Camillo Eitzen & Co ASA (CECO) pada
Juli 2010. Penerbitan saham baru itu menimbulkan potensi dilusi sebesar 25% dan perseroan akan dikuasai
dua pihak, yakni PT Tunggaladhi Baskasa dan Axel C Eitzen. (koranjakarta/gps).

Monday, October 5, 2009

BMTR - Global Mediacom Bayar Dividen Rp.3,5/shm November 2009

INILAH.COM, Jakarta - PT Global Mediacom Tbk (BMTR) akan membayarkan dividen tahun buku 2008 pada 11 November 2009.

Hal itu disampaikan manajemen BMTR di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (5/10).

Dalam keterangan tertulisnya di keterbukaan informasi BEI, pembayaran dividen akan dilakukan pada 11 November mendatang.

Untuk jadwal pembagian dividen antara lain cum dividen di pasar reguler dan pasar negoisasi pada 23 Oktober, ex dividen di pasar reguler dan pasar negoisasi pada 26 Oktober, cum dividen di pasar tunai dan recording date yang berhak atas dividen pada 28 Oktober, dan ex dividen di pasar tunai pada 29 Oktober. [cms]

Saturday, October 3, 2009

BLTA kabarnya akan melakukan akuisisi perusahaan pelayaran asal Norwegia

NILAH.COM, Jakarta - PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) kabarnya akan melakukan akuisisi perusahaan pelayaran asal Norwegia. Nilai akuisisi terhadap perusahaan pelayaran Norwegia tersebut kurang lebih sebesar US$ 100 juta.

Langkah akuisisi perusahaan pelayaran asing ini dilakukan BLTA guna mendukung ekspansi global perseroan. Sebelumnya BLTA juga dikabarkan tengah mencari pinjaman sebesar US$ 344 juta guna menambah 13 kapal hingga 2011, demikian seperti dikutip dari sebuah situs ekonomi nasional.

Keputusan untuk akuisisi perseroan kali ini bisa meningkatkan penetrasi BLTA ke pasar Eropa. Diversifikasi usaha BLTA menuju pasar Eropa ini diharapkan bisa positif, terlebih lagi BLTA memang sudah bersiap untuk menambah jumlah armadanya. Selain itu untuk menghadapi asas cabotage yang mulai berlaku tahun depan BLTA juga sudah membeli 2 kapal senilai US$ 80 juta-US$ 90 juta serta menyewa 2 kapal tambahan.

Sedangkan untuk aksi korporasi terbarunya BLTA sepertinya masih belum menentukan sumber pendanaan. Pada penutupan perdagangan Jumat (2/10) kemarin saham BLTA stagnan di Rp 830 dengan volume perdagangan mencapai 142.889 unit saham senilai Rp 58,9 miliar sebanyak 1.399 kali transaksi. [hid]