Tuesday, May 11, 2010

Efek Dividen

EFEK memiliki kata sinonim dengan dampak atau akibat. Efek dividen berarti dampak atau akibat dari pembayaran dividen. Pertanyaannya, dampak atau akibat apa yang ditimbulkan dan terhadap apa?

Pembayaran dividen dilihat dari kacamata perusahaan tergolong sebagai tindakan atau aksi korporasi (corporate action). Setiap aksi korporasi, apapun bentuknya selalu dibatasi oleh waktu, kapan dilakukan, mulai kapan dan sampai kapan. Jika perusahaan melakukan akuisisi, kapan dilakukan.

Jika emiten menggelar penawaran umum terbatas (right issue), kapan dilakukan, jika emiten melakukan pemecahan saham (stock split) juga dibatasi waktu kapan dilakukan. Begitu juga jika emiten akan membagikan dividen kapan hal itu dilakukan dan pemegang saham mana saja yang berhak atas dividen tersebut.

Terkait dengan pemegang saham mana yang berhak atas dividen memang perlu ditegaskan. Sebab, dalam aktifitas jual beli saham yang berlangsung setiap hari di bursa, jumlah dan siapa saja yang menjadi pemegang saham sebuah perusahaan publik selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Saat ini si A menjadi pemegang saham PT ABC karena baru saja membeli dari pasar, bisa saja esoknya sudah tidak tercatat sebagai pemegang saham karena sudah dijual kembali. Sebaliknya, hari ini si B belum tercatat sebagai pemegang saham, esok hari bisa saja B sudah tercatat sebagai pemegang saham PT ABC.

Karena itu soal batasan waktu dalam pembagian dividen ini menjadi sangat penting. Karena itu investor yang selalu memburu dividen harus tahu betul kapan cum date dividen dan kapan ex date dividen bagi pemegang saham. Cum date dividen berarti batas tanggal terakhir bagi pemegang saham yang berhak menerima dividen. Sedangkan ex date dividen berarti batas bagi pemegang saham yang tidak berhak untuk menerima dividen.

Ilustrasinya begini. Dalam pengumuman yang dikeluarkan emiten misalnya tertera cum dividen 10 Mei 2010, dan ex date dividen 11 Mei 2010. Artinya investor yang membeli saham  PT ABC pada 10 Mei masih berhak untuk mendapatkan dividen karena pada tanggal tersebut ia sudah tercatat sebagai pemegang saham. Sedangkan investor yang membeli saham PT ABC pada tanggal 11 Mei 2010 sudah tidak berhak atas pembagian dividen dari PT ABC. Dari sini jelas bahwa ada batas waktu bagi investor untuk bisa tercatat menjadi pemegang saham yang berhak atas dividen.

Pada batas waktu ini pula efek dividen terlihat nyata. Gambarannya begini. Jika PT ABC berencana akan membagi dividen sebesar Rp100 per saham dan pada saat cum date dividen harga saham perusahaaham PT ABC ditutup di Rp2.100, maka pada saat ex date dividen, biasanya harga saham PT ABC akan terkoreksi sebesar nilai dividen yang akan dibayarkan, yakni Rp100. Penurunan harga saham yang terjadi pada ex date dividen inilah yang disebut dengan efek (pembagian) dividen (dividen effect).

Bagaimana menjelaskan fenomena efek dividen ini? Jika ditelisik lebih jauh sebenarnya pembagian dividen oleh perusahaan ke pemegang saham merupakan transfer aset secara tunai dari perusahaan ke pemegang saham. Jika jumlah total saham yang menerima dividen 1 miliar lembar berarti nilai aset (current asset) yang ditransfer mencapai Rp100 miliar.

Nilai perusahaan berkurang sebesar Rp100 per saham, tapi aset pemegang saham bertambah sebesar Rp100 per saham. Karena itulah, harga saham saat ex date dividen mengalami koreksi sebesar nilai dividen yang dibayarkan.

Namun, logika di atas hanyalah logika di atas kertas, teoritis. Dalam fakta di pasar, logika itu tidak bisa berjalan kongruen. Jadi jangan heran, jika saat ex date dividen ternyata harga saham PT ABC justru naik (bukannya terkoreksi).

Jika ini yang terjadi, maka investor mendapat durian runtuh, dividen dapat dan capital gain-pun dapat. Namun begitu, jangan heran juga jika ternyata saat ex date dividen harga saham mengalami koreksi senilai di atas dividen yang dibagikan. Inilah pasar, fakta tidak selalu berjalan di atas kerangka teoritis. (Tim BEI)
(//rhs)

Saturday, May 8, 2010

BUMI: Kami Tidak Akan Right Issue!

PT Bumi Resources (BUMI) menegaskan jika pihaknya tidak ada niat untuk menerbitkan right issue atau non pre-emptive right.
"Tidak pernah ada niat BUMI untuk melakukan right issue. Juga tidak ada niat untuk melakukan non pre-emptives issue saat ini," jelas SVP Investor Relation-Corporate Secretary BUMI Dileep Sritavastava kepada okezone, di Jakarta, Jumat (7/6/2010).

Dia mengatakan, jika opsi-opsi tersebut tidak pernah diwacanakan dalam perseroan. Menurutnya, hal tersebut adalah spekulasi semata.

"Kami ingatkan bahwa hanya sebuah pengumuman resmi dari perusahaan yang merupakan informasi yang kredibel. Karena itu, mari tidak berspekulasi," katanya.

Padahal, pada akhir tahun lalu, Direktur Operasional BUMI Kenneth Farrel menuturkan perseroan merencanakan penawaran umum terbatas (PUT) untuk mendanai kebutuhan investasi perusahaan. Perusahaan membutuhkan investasi sebesar USD 2,226 miliar hingga 2013.

"Ada potensi untuk melakukan (rights issue)," kata Kenneth waktu itu.

Farrrel  menjelaskan, Pemerintah Indonesia mengimbau perusahaan terbuka untuk melakukan pre-emptive rights sebesar lima persen saham paling tidak satu kali selama tiga tahun. Dimana pemerintah bahkan sedang mempertimbangkan untuk menaikkan menjadi 10 persen.

Hal itu, dia mengakui, menjadi salah satu pertimbangan BUMI pada rencana pendanaan eksternal. Saat ini, perusahaan tengah mencari sumber pinjaman untuk memenuhi kebutuhan investasinya. Hingga 2013, perseroan membutuhkan dana segar setidaknya sebesar USD2,226 miliar.
(wdi)

Harga Nikel Naik 70,68%, INCO Tumbuhkan Laba 343,02% di Q1 2010

PT International Nickel Tbk (INCO) berhasil mencetak pertumbuhan laba bersih sebesar 343,02% di triwulan I-2010. Peningkatan dipicu oleh kenaikan harga nikel sebesar 70,68% yang mendorong kenaikan pendapatan sebesar 110,54%.

Demikian disampaikan dalam siaran pers perseroan, Jumat (7/5/2010).

Hingga triwulan I-2010, INCO mencetak pendapatan sebesar US$ 255,6 juta, naik 110,54% dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 121,4 juta. Peningkatan pendapatan terutama didorong oleh kenaikan penjualan nikel perseroan serta realisasi harga rata-rata nikel yang diterima perseroan.

INCO memproduksi 19.811 ton nikel di triwulan I-2010, naik 22,14% dari periode yang sama tahun lalu sebanyak 16.220 ton. Penjualan nikel INCO tercatat sebanyak 18.021 ton, tumbuh 23,34% dari sebelumnya 14.610 ton.

Sementara harga rata-rata penjualan nikel yang diterima perseroan meningkat 70,68% menjadi US$ 14.182 per ton dari sebelumnya US$ 8.309 per ton. Kenaikan volume penjualan diiringi dengan peningkatan harga yang cukup signifikan mendongkrak pendapatan INCO di triwulan I-2010.

Dan INCO pun berhasil mencetak laba bersih sebesar US$ 76,2 juta di triwulan I-2010, naik tajam 343,02% dari sebelumnya US$ 17,2 juta. Laba per saham pun menjadi US$ 0,008 per saham dari sebelumnya US$ 0,002 per saham.

Wednesday, May 5, 2010

UNSP Harap Akuisisi Domba Mas Selesai Semester II-2010

INILAH.COM, Jakarta - PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP) mengharapkan proses akuisisi Domba Mas selesai secepatnya atau paling lambat pada semester kedua 2010.
Hal itu disampaikan Direktur Keuangan UNSP Harry M.Nadir saat dihubungi INILAH.COM , Selasa (4/5). "Diharapkan secepatnya. Proses akuisisi harus ada aturan-aturan yang diikuti seperti undang-undang PT. Selain itu, kita harus minta izin sindikasi bank lain selain Bank Mandiri dan juga P&G karena restrukrisasi dan diversifikasi aset," ujar Harry.
Menurut Harry, proses akuisisi Domba Mas masih sesuai jalur dan tidak ada kendala dalam proses akuisisi Domba Mas.
Seperti diketahui, PT Bakrie Sumatra Bakrie Plantation Tbk (UNSP) menargetkan pabrik oleochemical milik PT Dombamas Agrointi Prima yang sudah diakuisisi oleh UNSP akan menghasilkan 400 ribu-450 ribu fatty
alcohol dengan market share sekitar 5%.
Ambono mengatakan, ada kontrak panjang sekitar 5 tahun dan bisa diperpanjang dengan P&G. "Perseroan sudah memiliki partner dengan P&G untuk kebutuhan fatty alcohol sekitar 90% yang terpasang dengan nilai
pasar yang berlaku, sisanya untuk pihak ketiga," tutur Ambono.
Sedangkan produksi oleochemical, menurut Ambono, ada pihak ketiga yang berminat untuk transaksi oleochemical dalam jangka panjang.
UNSP melalui dua anak perusahaannya yaitu PT Nibung Arthamulia dan PT Grahadura Leidong Prima mengakuisisi sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit dan oleochemical. Ambono mengatakan, dari akuisisi diharapkan bisa memberikan kontribusi pada pertengahan 2011. Pendanaan untuk akuisisi ini didapatkan dari hasil penawaran umum terbatas dengan total saham sekitar 9,4 miliar saham dan target total dana sekitar Rp4,9 triliun. [mel/cms]

Monday, May 3, 2010

Kinerja di Bawah Estimasi, 'Hold' Saham UNSP

INILAH.COM, Jakarta - PT Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) pada kuartal I-2010 membukukan kenaikan pendapatan dan laba bersih sebesar 20,27% dan 149% YoY atau menjadi Rp552,8 miliar dan Rp64,4 miliar.
Manajemen menargetkan pendapatan pada tahun 2010 naik 26% YoY menjadi Rp2,9 triliun.
"Kenaikan pendapatan ini dikarenakan terjadinya kenaikan penjualan karet 87,16% menjadi Rp224.95 miliar, CPO 17,3% menjadi Rp414,95 miliar, dan tandan buah segar 9,2% menjadi Rp49,9 miliar," ujar Samuel Securities dalam ulasan risetnya, Senin (3/5).
Kenaikan laba bersih didukung oleh keuntungan kurs sebesar Rp46,5 miliar di kuartal I-2010 dari periode yang sama 2009 yang rugi Rp140,97 miliar). "Namun, pendapatan dan laba bersih kuartal I-2010 serta target pendapatan 2010 di bawah estimasi pasar. Kami pun merekomendasikan hold untuk saham UNSP ini," tukas Samuel. [cms]

UNSP Akuisisi Citalaras Cipta Indonesia

INILAH.COM, Jakarta - PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) melalui anak usahanya PT Grahadura Leidongprima telah mengakuisisi 100% saham PT Citalaras Cipta Indonesia.
Hal ini disampaikan Fitri Barnas, Corporate Secretary UNSP dalam keterbukaan informasinya ke BEI, Senin (3/5).
Dana yang digunakan untuk mengakuisisi Citalaras ini diambil dari dana yang diperoleh dari penawaran umum terbatas III. Akuisisi ini telah dilakukan pada 29 April 2010. [cms]

Laba Bersih CNKO Naik 256,89% di Q1-2010

INILAH.COM, Jakarta - PT Central Korporindo International Tbk (CNKO) berhasil meraup kenaikan laba bersih sebesar 256,89% di kuartal I-2010 menjadi Rp2,07 miliar dibanding periode serupa 2009 Rp583,54 juta.
Dalam laporan keuangan Perseroan yang disampaikan ke BEI, Senin (3/5) dijelaskan kenaikan laba bersih ini dipicu kenaikan laba usaha menjadi Rp6,02 miliar dari periode serupa 2009 Rp3,83 miliar.
Tapi Perseroan masih mencatatkan kewajiban senilai Rp229,04 miliar pada kuartal I-2010, sedang ekuitasnya mencapai Rp657,92 miliar. [cms]

Energi Mega Persada (ENRG) Q1 2010 Rugi Meningkat 17,66% menjadi Rp 21,73 Miliar

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mencatat rugi bersih Rp 21,73 miliar pada triwulan I-2010, atau meningkat 17,66% dibanding rugi pada kuartal I-2009 Rp 18,46 miliar. Meningkatnya perolehan rugi bersih perseroan akibat turunnya penjualan bersih sebesar 26,24% menjadi Rp 257,08 miliar.
Demikian disampaikan manajemen (ENRG) dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, Jumat (30/4/2010) di Jakarta.
Penjualan perseroan selama 3 bulan pertama 2010 mencapai Rp 257,08 miliar atau menurun 26,24% dibandingkan posisi yang sama tahun lalu sebesar Rp 348,56 miliar. Hal yang sama terjadi pada beban penjualan, yang turun 30,81% dari Rp 292,05 miliar menjadi Rp 202,04 miliar hingga 31 Maret 2010.
Laba kotor pun ikut tergerus tipis 2,62% menjadi Rp 55,03 miliar. Pada posisi yang sama tahun lalu perseroan meraih laba kotor sebesar Rp 56,51 miliar. Beban usaha perseroan mencapai Rp 38,86 miliar atau menurun dibanding posisi tahun lalu, Rp 54,07 miliar.
Berkurangnya beban usaha ini menyebabkan laba usaha perseroan mencapai Rp 16,16 miliar atau naik signifikan dibanding posisi tahun lalu Rp 2,44 miliar. Beban lain-lain ENGR yang tercatat Rp 79,84 miliar menyebabkan rugi sebelum pajak tercatat Rp 63,67 miliar atau turun 37,49% dari posisi tahun lalu Rp 125,28 miliar.
Beban pajak sendiri tercatat mencapai Rp 43,07 miliar atau turun dibanding posisi tahun lalu Rp 106,48 miliar. Rugi sebelum hak minoritas pun mencapai Rp 20,59 miliar atau meningkat 9,52% dari posisi tahun lalu Rp 18,80 miliar.

INILAH.COM, Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mencatatkan kerugian bersih sebesar Rp21,73 miliar pada kuartal I-2010 setelah mencatatkan kerugian Rp18,47 miliar di periode serupa 2008.

Dalam laporan keuangan Perseroan yang disampaikan ke BEI, Jumat (30/4) dijelaskan kerugian ini disebabkan akibat pemabayaran pajak yang dilakukan Perseroan sebesar Rp15,57 miliar pada kuartal I-2010. Perseroan juga masih mencetak kerugian kurs sebesar Rp5,76 miliar di periode serupa.
Tapi Perseroan mencetak kenaikan laba usaha menjadi Rp16,17 miliar di kuartal I-2010 dibanding periode serupa 2009 sebesar Rp2,44 miliar.
Perseroan juga masih mencatatkan kewajiban sebesar Rp5,24 triliun, sedang ekuitasnya mencapai Rp6,33 triliun. [cms]
… aset total = Rp5,24 T + Rp6,33 T= Rp11,57 T…

Laba Bersih Delta Dunia Melonjak 902,26% di Q1 2010

PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID), mencetak laba bersih signifikan sekitar 902,26% menjadi 150,64 miliar di triwulan 1-2010, ketimbang periode yang sama 2009 hanya Rp1,503 miliar.
Demikian disampaikan manajemen DOID dalam keterbukaan informasi BEI, Minggu (2/5).
Melonjaknya laba bersih ini didukung dari pendapatan bersih perseroan yang melejit dari Rp331,50 juta menjadi Rp1,285 triliunn, namun beban pos pendapatan perseroan pun menjadi Rp998,89 miliar lantaran masukkan BUMI setelah akuisisi dibandingkan periode yang sama sebelumnya tercatat nihil.
Penghasilan lain-lain pun turun Rp510,23 juta atau turun dibanding posisi tahun lalu Rp2,27 miliar. Beban pajaknya sekitar Rp79,89 miliar sehingga menyebabkan laba sebelum hak minoritas tercatat Rp 150,65 miliar atau naik dari posisi yang sama tahun 2009 Rp 1,51 miliar. Laba kotor perseroan pun tercatat Rp286,75 miliar dari Rp 331,50 juta

UNSP Raih Laba Rp64,413 Miliar di Q1 2010 naik 149% YoY

PT Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) pada kuartal I-2010 membukukan kenaikan pendapatan dan laba bersih sebesar 20,27% dan 149% YoY atau menjadi Rp552,8 miliar dan Rp64,4 miliar.
Manajemen menargetkan pendapatan pada tahun 2010 naik 26% YoY menjadi Rp2,9 triliun.
“Kenaikan pendapatan ini dikarenakan terjadinya kenaikan penjualan karet 87,16% menjadi Rp224.95 miliar, CPO 17,3% menjadi Rp414,95 miliar, dan tandan buah segar 9,2% menjadi Rp49,9 miliar,” ujar Samuel Securities dalam ulasan risetnya, Senin (3/5).
Kenaikan laba bersih didukung oleh keuntungan kurs sebesar Rp46,5 miliar di kuartal I-2010 dari periode yang sama 2009 yang rugi Rp140,97 miliar). “Namun, pendapatan dan laba bersih kuartal I-2010 serta target pendapatan 2010 di bawah estimasi pasar. Kami pun merekomendasikan hold untuk saham UNSP ini,” tukas Samuel
PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP) membukukan laba bersih Rp64,413 miliar pada kuartal pertama 2010 dibandingkan pada periode sama sebelumnya merugi Rp129,961 miliar.
Kenaikan laba bersih ini didukung kenaikan penjualan bersih dari Rp459,628 miliar pada kuartal pertama 2009 menjadi Rp552,871 miliar pada kuartal pertama 2010. Beban pokok penjualan naik 6,4% dari Rp313,452 miliar pada kuartal pertama 2009 menjadi Rp333,807 miliar pada kuartal pertama 2010.
Laba kotor perseroan naik 49% dari Rp146,175 miliar pada kuartal pertama 2009 menjadi Rp219,064 miliar pada kuartal pertama 2010. Perseroan juga mendapatkan keuntungan dari kurs sebesar Rp45,528 miliar pada kuartal pertama 2010, sebelumnya perseroan rugi kurs Rp140,968 miliar pada kuartal pertama 2009.
Namun, penghasilan bunga turun 49% dari Rp1,5 miliar pada kuartal pertama 2009 menjadi Rp765 juta pada kuartal pertama 2010. Jumlah kewajiban dan ekuitas perseroan naik 162% dari Rp4,754 triliun pada kuartal pertama 2009 menjadi Rp12,463 triliun pada kuartal pertama 2010.

JAKARTA. PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 64,4 miliar pada kuartal satu 2010. Kondisi ini kontras dengan rugi bersih Rp 129,9 miliar yang diderita perusahaan perkebunan ini pada periode sama 2009.
Pencapaian ini ditopang oleh pendapatan UNSP yang meningkat 20,27% menjadi Rp 552,8 miliar. Pemicunya adalah membaiknya penjualan karet dan kelapa sawit.
Penjualan karet UNSP pada tiga bulan pertama tahun ini melonjak 87,16% dari Rp 120,19 miliar menjadi Rp 224,95 miliar. Sementara, penjualan minyak sawit mentah (CPO) meningkat 17,3% menjadi Rp 414,95 miliar. Kemudian, penjualan tandan buah segar UNSP naik 9,2% menjadi Rp 49,9 miliar.
"Kenaikan produksi akibat adanya lahan baru yang sudah menghasilkan, juga menjadi penopang perbaikan kinerja," kata Harry M. Nadir, Direktur Keuangan UNSP, kepada KONTAN, kemarin. Tapi, dia tidak menyebutkan jumlah kenaikan produksinya.
Di sisi lain, UNSP mencatatkan laba usaha sebesar Rp 151,3 miliar atau meningkat 40,3% dari kuartal satu 2009. Namun, beban usahanya membengkak 78,80% menjadi Rp 67,75 miliar. UNSP juga membukukan laba kurs Rp 46,5 miliar. Padahal, periode sebelumnya., mereka menderita rugi kurs mencapai Rp 140,97 miliar.
Sekedar tambahan informasi, manajemen UNSP menargetkan jika produksinya sesuai target, pendapatannya tahun ini bisa mencapai Rp 2,9 triliun. Target produksi CPO yang ingin diraih sebanyak 400.000 ton atau meningkat 45% dari produksi tahun lalu sebesar 275.000 ton.
Sedangkan produksi tandan buah segar (TBS) ditargetkan naik dari 1,15 juta ton menjadi 1,6 juta ton. Begitu pula dengan produksi karet, akan digenjot dari 21.700 ton menjadi 21.800 ton. Target ini akan tercapai jika UNSP berhasil mengakuisisi aset-aset Grup Domba Mas.