Wednesday, April 28, 2010

KARK digugat Pailit

PT Alam Baru Mandiri mengajukan permohonan pernyataan pailit terhadap PT Dayaindo Resources
International Tbk, karena perusahaan itu mengklaim mempunyai kewajiban yang belum dibayar oleh
perusahaan sekitar Rp3,17 M. Permohonan pailit tersebut didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan
Niaga Jakarta Pusat. (bisnis/eva).



PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menjatuhkan sanksi penghentian perdagangan sementara (suspensi) atas perdagangan saham PT Dayaindo Resources International Tbk (KARK). Penghentian perdagangan tersebut karena terjadinya pemberitaan mengenai perseroan dimohonkan pailit.

"Penghentian sementara perdagangan saham PSAB tersebut dilakukan di pasar mulai sesi I hari ini," kata Kadiv Perdagangan Saham BEI Andre PJ Toelle dalam keterbukaan informasi BEI di Jakarta, Rabu (28/4/2010).

Dijelaskannya, bursa pada saat ini sedang meminta penjelasan lebih lanjut kepada perseroan. Sebagai informasi, PT Alam Baru Mandiri mengajukan permohonan pernyataan pailit terhadap PT Dayaindo Resources International Tbk, karena perusahaan itu mengklaim mempunyai kewajiban yang belum dibayar oleh perusahaan sekira Rp3,17 miliar.

Global Mediacom (BMTR) 2010 Bagi Dividen Rp 5 Per Saham

PT Global Mediacom Tbk (BMTR) akan membagikan dividen tunai yang berasal dari laba tahun buku 2009 sebesar Rp 5 per saham, atau totalnya sebesar Rp 68,827 miliar.

Demikian disampaikan oleh Presiden Direktur Global Mediacom Hary Tanoesoedibjo dalam jumpa pers di Kantornya, MNC Tower Kebun Sirih, Jakarta, Selasa (27/4/2010).

Ia menjelaskan, seluruh sisa laba setelah dikurangi untuk pembayaran dividen akan digunakan untuk memperkuat modal perseroan. "Rencana dividen telah disetujui pemegang saham perseroan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diselenggarakan hari ini," jelasnya.

Pada tahun 2009, perseroan membukukan kenaikan pendapatan sebesar 5% menjadi Rp 5,03 triliun. "Ini tidak termasuk dari bisnis telekomunikasi (PT Mobile-8 Telecom Tbk) yang telah kami divestasikan pada November 2009," jelasnya.

Sementara pada kuartal I-2010, pendapatan BMTR mencapai Rp 1,35 triliun atau naik 15% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,178 triliun. Sedangkan laba bersihnya meningkat 271% menjadi Rp 152 miliar dibanding tahun 2009, Rp 41 miliar.

Sayang, dirinya masih belum mau mengungkapkan besaran target di tahun 2010.

"Kami masih hitung, yang jelas untuk Indovision laba Rp 300 miliar, dan revenue Rp 1,7 triliun. Untuk MNC revenue Rp 4,6 triliun dan laba Rp 700 miliar. Masih harus dikurangi minority interest, dari target kedua anak usaha ini," paparnya.

Tuesday, April 27, 2010

Wow..Laba Q1 2010 Latinusa (NIKL) Naik 2.251%

PT Pelat Timah Nusantara Tbk (Latinusa/NIKL) mencatatkan kenaikan laba yang mencengangkan. Laba bersih perseroan naik sebesar 2.251,3 persen menjadi Rp28,05 miliar pada kuartal I-2010 jika dibandingkan kuartal I-2009 yang sebesar Rp1,19 miliar.

Dengan demikian, laba bersih per sahamnya mengalami kenaikan menjadi Rp11 per saham dari sebelumnya yang minus Rp1 per saham. Demikian diungkapkan oleh Direktur Utama Latinusa Ardhiman TA dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Selasa (27/4/2010).

Nampaknya wajar saja kenaikan laba ini, di mana penjualannya juga naik menjadi sebesar Rp366,72 miliar, padahal periode sebelumnya hanya Rp288,53 miliar. Sementara laba kotor perseroan naik menjadi Rp69,99 miliar dari sebelumnya yang sebesar Rp28,18 miliar.

Laba usaha perseroan juga naik menjadi Rp38,42 miliar dari sebelumnya yang sebesar Rp14,24 miliar. Perseroan juga mencatatkan kenaikan pendapatan bungan menjadi Rp1,7 miliar dari sebelumnya yang hanya Rp440 juta.

Rugi kurs perseroan juga turun menjadi Rp1,76 miliar dari sebelumnya Rp3,4 miliar, beban bunga juga menurun menjadi Rp1 miliar dari sebelumnya Rp3 miliar. Di mana junmlah aset perseroan naik menjadi Rp714,83 miliar dari sebelumnya yang sebesar Rp604,5 miliar

Monday, April 26, 2010

Penjualan Batubara BUMI Naik 41,6% di Triwulan I-2010

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat pertumbuhan volume penjualan batubara sebesar 41,6% di triwulan I-2010. Perseroan meningkatkan kapasitas produksi sebesar 66,67%.

"BUMI telah menjual 16 juta ton batubara di triwulan I-2010," ujar SVP Investor Relations BUMI, Dileep Srivastava dalam pesan singkatnya kepada detikFinance, Senin (26/4/2010).

Dileep mengatakan, pada periode yang sama tahun 2009, BUMI mencatat penjualan batubara sebanyak 11,3 juta ton. Itu berarti telah terjadi peningkatan sebesar 41,6%.

"Kami sangat yakin target penjualan batubara sebanyak 64 juta ton tahun ini akan tercapai," ujarnya.

Tahun 2009, BUMI menjual 58,39 juta ton batubara yang berarti target volume penjualan batubara tahun ini tumbuh 9,61% dari tahun 2009.

Untuk produksi batubara di 2010, perseroan menargetkan angka antara 67-70 juta ton, tumbuh antara 6,14% hingga 10,89% dari realisasi tahun 2009 sebanyak 63,12 juta ton.

Selain itu, BUMI juga baru saja memperoleh kontrak penjualan batubara ke Jepang pada harga FOB sebesar US$ 104 per ton untuk pengiriman April 2010 hingga Maret 2011.

Tahun 2009, harga rata-rata penjualan batubara yang diterima BUMI sebesar US$ 63,14 per ton, lebih rendah 13,9% dari tahun 2008 sebesar US$ 73,34 per ton.

Dengan adanya kontrak dengan Jepang tersebut, maka harga rata-rata batubara yang diterima perseroan tahun ini bakal melonjak drastis.

"Dengan kontrak ini, seharusnya kami akan mendapatkan hasil yang jauh dari perkiraan semula," ujarnya.

BUMI juga memastikan bahwa proses peningkatan kapasitas produksi PT Kaltim Prima Coal (KPC) akan segera berjalan dalam waktu dekat.

"Kami juga meningkatkan kapasitas di KPC dari 4.500 ton per jam menjadi 7.500 ton per jam yang mulai beroperasi pada Mei 2010," ujar Dileep.

Bea Keluar CPO Mei 2010 Tetap 4,5%

Karena harga produk kelapa sawit dan turunan tidak banyak perubahan dalam sebulan terakhir, maka pemerintah menetapkan Bea Keluar Crude Palm Oil (CPO) tetap 4,5% atau sama dengan bulan sebelumnya.

Dalam menentukan BK tersebut pemerintah mengacu pada harga rata-rata CPO yang diperdagangkan di Amsterdam yang mencapai US$ 823,74 per ton.

Dengan harga rata-rata tersebut, sesuai dengan ketetapan Menteri Keuangan, maka BK yang dikenakan adalah masuk pada kolom 4 dengan besaran BK 4,5%. Sedangkan untuk Harga Patokan Eskpor (HPE) yang ditetapkan oleh Menteri Perdagangan untuk CPO adalah US$ 752 per ton yang juga mengacu pada harga CPO rata-rata di Asmterdam.

”Penetapan harga HPE berpedoman pada harta rata-rata internasional atau harga free on board (FOB) satu bulan terakhir,” tulis aturan yang diteken oleh Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Diah Maulida, pekan lalu. Sesuai beleid itu, harga HPE dari CPO tersebut akan menjadi acuan pembayaran BK CPO oleh eksportir dalam melakukan ekspor pada bulan Mei.

Perinciannya begini. HPE CPO untuk bulan Mei adalah US$ 752 per ton atau turun dari HPE bulan April US$ 755 per ton. Sementara itu untuk HPE untuk tandan buah segar atau kernel buah sawit turun malah mengalami kenaikan dari US$ 365 per ton untuk bulan April menjadi US$ 389 per ton. Sedangkan Crude Olein turun dari US$ 788 per ton menjadi US$ 787 per ton di bulan Mei.

Friday, April 23, 2010

Q1 2010 Kinerja Antam Membaik

Sepanjang kuartal I 2010 kinerja PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) menunjukan perbaikan dengan membukukan laba bersih Rp201,94 miliar, sementara pada periode sama tahun sebelumnya hanya Rp89,88 miliar.

Dalam laporan keuangan Antam yang dipublikasikan Kamis disebutkan membaiknya kinerja ini disebabkan perseroan mampu menekan beban pokok penjualan dari Rp2,48 triliun menjadi Rp1,18 triliun.

Meski penjualan selama kuartal I 2010 mengalami penurunan dari Rp2,64 triliun menjadi Rp1,655 triliun, laba bersihnya justru naik. Hal ini disebabkan perseroan mampu melakukan efisiensi dan penekanan beban penjualan.

Dengan demikian perolehan laba usaha Antam juga naik menjadi sebesar Rp343,31 miliar dari sebelumnya Rp54,7 miliar.

Kebangkitan Minyak Mentah Turut Dongkrak Harga CPO

Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali merangkak naik. Sampai pukul 17.00 WIB kemarin (22/4), harga CPO untuk pengiriman Mei 2010 di Bursa Derivatif Malaysia (MDEX) naik 0,61% menjadi US$ 785,25 per ton.
Salah satu pemicu kebangkitan harga CPO adalah kenaikan harga minyak mentah ke level US$ 84 per barel, setelah turun di awal pekan lalu.
Ibrahim, analis Asia Kapitalindo Futures, mengatakan hingga semester pertama tahun ini harga CPO bisa menyentuh level US$ 800 per ton. Jika angka itu terlampaui, harganya berpeluang menuju US$ 850 per ton.
Selain dipengaruhi laju harga minyak mentah, menurut Ibrahim, secara fundamental kenaikan harga CPO juga didorong permintaan minyak sawit yang masih bagus.
Sepanjang 2010, harga tertinggi CPO pernah mencapai US$ 803,5 per ton. Harga komoditas tersebut di sepanjang kuartal satu 2010 lebih tinggi dari periode sama tahun lalu. Hal ini pula yang membuat kinerja emiten produsen CPO mulai membaik. Misalnya PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Selama kuartal I-2010, anggota Grup Astra ini menikmati kenaikan harga jual CPO sebesar 19,1% menjadi Rp 6.544 per kilogram dari semula Rp 5.494 per kg.
China National Grain and Oils Information Center, seperti dikutip Bloomberg, melaporkan pengiriman CPO dari Malaysia ke China dalam periode 1 April hingga 20 April turun ke level terendahnya tahun ini. Hal tersebut dipicu penurunan permintaan dan berlimpahnya stok CPO di China.
Pada periode 1 April-20 April, pengiriman CPO ke China sebanyak 173.000 ton, turun 27% dari periode yang sama di bulan sebelumnya. Ibrahim berpendapat, penurunan permintaan China tak terlalu besar asalkan permintaan dari India dan Jepang tidak ikut merosot.

Thursday, April 22, 2010

Diakuisisi Rajawali, Eatertainment Alih Usaha ke CPO

PT Eatertainment International Tbk (SMMT) segera melakukan alih usaha ke sektor perkebunan kelapa sawit menyusul akuisisi 70,85% saham perseroan oleh dua perusahaan afiliasi Rajawali Group senilai Rp 12,739 miliar. Tender offer digelar seharga Rp 230 per saham.

"Rajawali Group telah mengakuisisi 70,85% saham SMMT melalui dua anak usahanya, Green Palm Resources dan Mutiara Timur Pratama," ujar sumber detikFinance, Kamis (22/4/2010).

Pekan lalu memang telah terjadi pengambilalihan atas mayoritas saham SMMT. Pada 15 April 2010, PT Mutiara Timur Pratama (MTP) membeli 18.714.000 (23,39%) saham SMMT pada harga Rp 225 per saham senilai Rp 4,210 miliar. Pembelian dilakukan dari pemegang saham sebelumnya PT AIM Trust dan afiliasinya.

Pada 16 April 2010, Green Palm Resources Pte Ltd (GPR) membeli 37.964.000 (47,46%) saham SMMT seharga Rp 224,67 per saham senilai Rp 8,529 miliar. Pembelian dilakukan dari pemegang saham sebelumnya Indrajaty Hadiwardojo yang merupakan pemegang saham individual.

Kedua perusahaan tersebut merupakan perusahaan afiliasi Rajawali Group. Total saham SMMT yang diambil alih Rajawali sebanyak 56.678.000 saham (70,85%) senilai Rp 12,739 miliar.

Sebelum akuisisi ini, SMMT merupakan perusahaan yang mengelola merek dagang Papa Rons Pizza, Amigos Restaurant, Inline Skating, Putt-Putt Golf and Games dan Ponderosa Steak House.

Sayangnya, Managing Director Rajawali, Darjoto Setyawan tidak menjawab panggilan telepon detikFinance untuk meminta klarifikasi soal masuknya Rajawali di SMMT beserta rencana perubahan usaha.

Namun bulan lalu, Darjoto mengatakan pihaknya ada rencana merambah bisnis CPO setelah menjual 23,65% saham Rajawali di PT Semen Gresik Tbk (SMGR) senilai Rp 9,821 triliun. Boleh jadi, realisasi rencana tersebut akan dilakukan melalui SMMT.

Namun Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Eddy Sugito mengatakan dirinya telah mendengar rencana alih usaha SMMT. "Kelihatannya memang akan terjadi perubahan usaha ke sektor perkebunan, tapi kan baru akuisisi, belum selesai prosesnya. Detailnya juga kita belum terima," ujar Eddy.

Akuisisi Green Resources dan Mutiara Timur menyebabkan terjadinya perubahan pemegang saham pengendali SMMT. Oleh sebab itu, perseroan wajib menggelar tender offer atas sisa saham publik yang masih beredar.

Tan Tjoe Liang, salah satu Direktur PT Rajawali Corp yang juga menjabat sebagai direktur di Green Palm dan Mutiara Timur memastikan akan menggelar tender offer di harga Rp 230 per saham.

Dengan sisa saham publik sebanyak 13,322 juta saham (16,65%), maka dana yang harus disiapkan untuk tender offer ini sebesar Rp 3,064 miliar.

Selain dua perusahaan milik Rajawali tersebut, pada 13 April 2010, Eagle Capital, perusahaan yang dipimpin oleh Direktur Utama Harry Wiguna bersama dengan rekannya mantan Direktur Utama BEI Erry Firmansyah, juga telah membeli 10 juta (12,5%) saham SMMT pada harga Rp 225 per saham senilai Rp 2,250 miliar. Pembelian dilakukan dari pemegang saham sebelumnya bernama Elsini Tirta yang merupakan pemegang saham individual.

"Pembelian ini adalah untuk investasi jangka panjang," ujar Harry.

Sayangnya, Harry juga belum dapat membeberkan realisasi perubahan usaha yang akan dilakukan SMMT oleh Rajawali. "Itu bisa ditanyakan ke Rajawali," elaknya.

Laba WOM Finance Q1 2010 Melonjak 1067%

PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance) mencetak laba bersih sebesar Rp 35 miliar pada kuartal I-2010 naik 1067% dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 3 miliar. Namun ini tidak diikuti oleh pendapatan pembiayaan perseroan yang turun hampir 38%, dari Rp 196 miliar menjadi Rp 122 miliar.

Demikian diungkapkan Presiden Director WOM Finance, Suwandi Wiratno dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) WOM Finance di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (21/4/2010).

Pendapatan dan perolehan laba yang berbanding terbalik, disebabkan oleh beban bunga perseroan yang menurun. Pada tahun 2009 perseroan tercatat melunasi obligasi mereka, yang jatuh tempo sebesar Rp 635 miliar.

"Laba bisa naik karena beban bunga kami yang bekurang. Tahun lalu kan kita bayar bond (obligasi) Rp 635 miliar," paparnya.

Beban pinjaman perseroan juga tercatat turun 32% dari Rp 99 miliar menjadi Rp 67 miliar. Pendapatan bunga bersih mengalami penurunan hingga 43%, menjadi Rp 55 miliar. Padahal di tahun lalu, pendapatan bunga bersih perseroan mencapai Rp 97 miliar.

Pendapatan lain-lain pada periode kuartal I-2010 mencapai Rp 211 miliar atau meningkat 33% dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 159 miliar. Beban operasional tercatat naik tipis 3% menjadi Rp 197 miliar.

Indonesia Harus Lepas Ketergantungan Ekspor CPO

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Akmaludin Hasibuan menegaskan, Indonesia harus melepas ketergantungan ekspor dengan meningkatkan penyerapan di pasar domestik.

"Kita tidak bisa bergantung pada China dan India," tandas Akmaludin. Menurutnya, bisa saja India dan China mengurangi impor CPO-nya karena persediaan mereka masih cukup banyak.

Indonesia bisa berkaca dari Malaysia. Meskipun Maret lalu India menjadi pembeli terbesar CPO Indonesia dengan memborong 334.157 ton atau 31% dari total ekspor CPO Indonesia, ekspor CPO dari Malaysia ke India maupun China sepanjang April 2010 ini sudah mulai menyurut 9,1%.

Asal tahu saja, ekspor kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) Indonesia pada Maret 2010 turun 9% dari Februari. Penyusutan produksi kelapa sawit dari sejumlah kawasan penghasil sawit menjadi pemicunya. Namun, penurunan volume ekspor tersebut tidak perlu dikhawatirkan karena tren penurunan ini jamak terjadi setiap awal tahun.

Menurut Bloomberg, pengiriman CPO ke pasar ekspor selama Maret 2010 hanya sebanyak 1,06 juta ton, turun dari Februari 2010 yang mencapai 1,16 juta ton. Ekspor Januari 2010 lebih tinggi lagi, yakni mencapai 1,2 juta ton.