Thursday, April 8, 2010

BEI Usut Isu BUMI & KPC Beri Uang ke Gayus

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menanggapi rumor yang beredar terkait anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), Kaltim Prima Coal (KPC), yang ikut menyuntikkan dana sebesar lebih kurang Rp500 miliar kepada Gayus Tambunan.

"Lihat dulu nanti, belum dulu komentar. Kita belum melihat tentang itu, karena kasihan ke Gayus (Gayus Tambunan) dia diberitakan terus," ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito, saat ditemui wartawan, di sela acara meeting Asosiasi Emiten Indonesia, Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (7/4/2010).

Hal senada juga diutarakan Direktur Utama BEI Ito Warsito yang mengatakan pihaknya belum mengetahui hal itu. Jika hal tersebut terbukti, maka akan terus diusut oleh otoritas pasar modal.

"Kita belum mendengar itu, jika benar nanti pak Eddy yang akan mengusut hal itu. Tidak menutup kemungkinan emiten lainnya," katanya.

Kabar yang diterima okezone dan semakin deras dibicarakan oleh pewarta pasar modal jika emiten PT Adaro Energy Tbk (ADRO) ikut menyuntikkan dana juga ke Gayus Tambunan.

Asing Kuasai 55,81% Saham BUMI

Pemegang saham Bumi Resources Tbk tidak ada yang mempunyai kepemilikan lebih dari 5%. Itu artinya, BUMI seutuhnya dikendalikan oleh pemegang saham publik.
Berdasarkan laporan Biro Administrasi BUMI, PT Ficomindo Buana Registrar ke BEI seperti dikutip IINILAH.COM, Kamis (8/4) dijelaskan asing menguasai 55,81% saham BUMI atau setara dengan 10,83 miliar saham. Kepemilikan asing ini terdiri dari 0,51% yang dimiliki 411 investor individu dan 55,31% yang dimiliki 750 investor institusi.
Sementara pemodal lokal hanya memiliki 44,18% atau setara dengan 8,57 miliar saham di BUMI. Kepemilikan lokal ini terdiri dari 24,55% (47.450 investor individu), 18,19% (655 investor institusi), 1,3% (222 investor dari dana pensiun), 0,14% (20 investor yayasan), dan 4 investor koperasi (0% kepemilikan). [cms]

Wednesday, April 7, 2010

Trubajaya pilih mitra dari Jepang dan Eropa

Perusahaan Jepang dan Eropa Timur akan menjadi alternatif pilihan bagi PT Truba Jaya Engineering untuk digaet sebagai mitra dalam tender engineering, procurement, and costructions proyek 10.000 MW tahap kedua yang akan diikuti perusahaan.

Direktur Marketing Truba Jaya Mansyur Tampubolon mengatakan perusahaan berencana untuk mengikuti tender-tender kontrak EPC proyek-proyek 10.000 MW tahap kedua yang mulai dibuka tahun ini.

Menurut dia, Truba Jaya sudah melakukan evaluasi terhadap beberapa perusahaan yang potensial untuk digandeng dalam tender EPC tersebut.

“Kami sudah mengantongi beberapa perusahaan yang potensial untuk digandeng. Yang jelas, faktor harga dan teknologi yang ditawarkan sangat menentukan,” katanya tadi malam.

Perusahaan Jepang, tuturnya, dari sisi harga relatif lebih mahal dibandingkan dengan yang lain, dengan selisih sekitar harga 15%-20%. Namun, tuturnya, dalam hal teknologi, perusahaan-perusahaan EPC asal Jepang umumnya lebih efisien dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan asal negara lain.

Mungkin, katanya, dari sisi harga perusahaan-perusahaan asal Eropa Timur dan China lebih murah. Akan tetapi dalam hal efisiensi Jepang masih unggul. "Kalau kami bandingkan antara Eropa Timur dan China, teknologi Eropa Timur lebih unggul, walaupun harganya masih lebih tinggi dari China. Hanya saja, belakangan China sudah menaikkan harganya,” ungkapnya.

Dengan pertimbangan tersebut, katanya, perusahaan-perusahaan asal Jepang dan Eropa Timur bisa menjadi alternatif utama bagi perusahaan. Dia mencontohkan Mitsubishi yang sudah bekerja sama pada tidak kurang 9 proyek PLTGU di Indonesia dengan Truba Jaya.

“Mitsubishi bisa dikatakan masih yang terbaik saat ini, tetapi tidak tertutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan yang lain,” katanya.

Hanya saja, katanya, perusahaan sekelas Mitsubishi, tidak bisa ikut serta dalam tender pembangkit skala rendah. Untuk jenis pembangkit itu, katanya, perusahaan lebih memilih menjadi independent power producer (IPP) dengan menggandeng mitra perusahaan lokal.

“Mitsubishi itu spesialisasinya untuk pembangkit di atas 100 MW—200 MW. Untuk pembangkit kecil-kecil kami bisa menjadi IPP dengan menggandeng mitra lokal. Adapun perangkat-perangkat penting seperti turbin bisa kami beli dari tempat lain. Kalau boiler, untuk kapasitas 35 MW—45 MW sudah bisa dibuat di dalam negeri,” jelasnya.

BEI Evaluasi Kinerja CP Prima (CPRO)

Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kinerja keuangan PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO) yang mencatat rugi bersih sebesar Rp 217,17 miliar serta dampaknya terhadap mekanisme pelunasan bunga kupon obligasi senilai US$ 17,9 juta.

"Kami terus mengevaluasi CP Prima dan jangan dibilang BEI tidak melakukan apa-apa. Sebab, masalah gagal bayar cukup serius dan manajemen perusahaan juga mengakui hal itu," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito saat dihubungi detikFinance, Selasa (6/4/2010) malam.

CP Prima gagal bayar (default) bunga kupon surat utang senilai US$ 17,9 juta belum lama ini. Penyebab default adalah serangan virus sehingga kinerja keuangan terganggu. Perseroan melalui anak usahanya, Blue Ocean Resources Ltd, menerbitkan obligasi sebesar US$ 325 juta pada 2007 dan akan jatuh tempo tahun 2012.

Sebelumnya, lembaga rating international, Fitch Ratings menilai CP Prima kemungkinan besar tidak mampu membayar bunga kupon tepat waktu seiring kian memburuknya kinerja keuangan. Karena itu, pemegang obligasi meminta perseroan harus melunasi bunga kupon setiap tahun kendati surang utang baru jatuh tempo dua tahun mendatang.

Seiring memburuknya kinerja keuangan dan serangan virus yang mengganggu tambak udang CP Prima, beberapa pemegang obligasi dan investor mengimbau otoritas bursa untuk menyuspensi perdagangan saham CPRO.

Sementara itu, penjualan bersih CP Prima merosot 16,37% menjadi Rp 6,83 triliun pada 2009 dibanding tahun sebelumnya Rp 8,17 triliun. Penurunan itu antara lain disebabkan anjloknya harga udang di pasar internasional dan penurunan volume ekspor ke berbagai negara, khususya Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Sebab, ekonomi di AS dan Eropa belum pulih total.

Kendati penjualan turun, manajemen perseroan berhasil mengurangi kerugian sekitar 47% menjadi Rp 217,17 miliar dari tahun sebelumnya Rp 407,18 miliar.

Tuesday, April 6, 2010

Capex Bakrie Plantations (UNSP) USD 150 Juta

PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP) menaikkan anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) 2010 menjadi US$ 150 juta, dari sebelumnya US$ 100 juta. Dana diambil dari rights issue US$ 100 juta dan US$ 50 juta dari kas internal perseroan.
 
Direktur Utama Bakrie Plantations Ambono Janurianto mengatakan, dana sebesar US$ 120 juta akan dialokasikan untuk pengembangan industri oleochemical. Sementara itu, sebanyak US$ 30 juta akan digunakan untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit dan karet.
 
“Sebagian besar dana capex  tahun ini dialokasikan terkait dengan produksi sawit. Kami ingin meningkatkan nilai tambah produksi crude palm oil (CPO) menjadi produk oleochemical,” ujar Ambono kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (5/4).
 
Dengan capex US$ 150 juta, pihaknya berharap bisa menggenjot pendapatan usaha (revenue) sebesar 40%  menjadi sekitar Rp 3,3-3,4 triliun tahun 2010 dibandingkan tahun 2009. Realisasi pendapatan perseroan tahun lalu diperkirakan sekitar Rp 2,3 triliun.
 
Target pendapatan tersebut sangat mungkin dicapai karena harga CPO cenderung naik dibandingkan tahun lalu.  Harga CPO tahun lalu saja sekitar US$ 580 per ton. “Kalau tahun ini naik menjadi sekitar US$ 800 per ton seperti tahun 2008, revenue kami bisa naik  …

BNBR 2009 Merugi Rp1,627 T berkurang 90,11% dari tahun 2008 sebesar Rp.16,464T

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mencetak penurunan rugi bersih konsolidasi sekitar 90,11% menjadi Rp1,627 triliun dibandingkan kerugian pada 2008 mencapai Rp16,464 triliun.
Demikian penjelasan resmi manajemen BNBR dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (6/4).
Penurunan rugi bersih ini diakibatkan perseroan meraih keuntungan kurs Rp291,887 miliar dibandingkan 2008 dimana perseroan mengalami rugi kurs sekitar Rp526,473 miliar. Sayang, sejumlah pos dalam neraca keuangan perseroan ini turun.
Pos pendapatan bersih perseroan turun 9,19% menjadi Rp7,631 triliun dibandingkan perolehan sebelumnya Rp8,404 triliun. Namun perseroan berhasil menekan biaya pokok penjualannya sekitar 17,50% dari Rp4,759 triliun kini menjadi Rp3,926 triliun. Di pos bagian laba rugi bersih perusahaan asosiasi, perseroan mencerak kerugian sekitar Rp493,827 miliar dibandingkan sebelumnya yang untung sekitar Rp791,208 miliar.
Hingga 31 Desember 2009, perseroan berhasil menurunkan beban pajaknya sekitar Rp6,746 milair ketimbang sebelumnya mencapai Rp63,512 miliar. Beban penghapusan dan penyisihan piutang ragu-ragu pun turun dari Rp70,183 miliar kini menjadi Rp6,748 miliar.
Menyoal utang perseroan secara konsolidasi, pinjaman jangka pendeknya turun dari Rp5,885 triliun menjadi Rp2,637 triliun, beban yang harus dibayar melonjak menjadi Rp1,103 triliun dari sebelumnya hanya Rp320,269 miliar, utang pajak pun menebal menjadi Rp130,904 miliar dari sebelumnya hanya Rp 123,451 miliar.
"Per 31 Desember 2009, jumlah aset kami bertmbah 10,97% dari Rp24,673 triliun menjadi Rp27,381 triliun," ungkap manajemen.

Saham UNSP Akan Dikerek Bandar

Saham PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) dikabarkan bakal dikerek ke level Rp 750-800. Hal itu terkait isu perseroan sedang mengurus sertifikat roundtable on sustainable palm oil (RSPO) agar bisa tembus pasar Eropa. Perusahaan ini juga dikabarkan punya rencana membentuk usaha bersama (joint venture) dengan perusahaan Eropa. Kemarin, UNSP turun Rp 5 (10,1%) ke posisi Rp 490, dengan volume transaksi 56,84 juta saham.

Monday, April 5, 2010

Laba Bersih Bumi Resources 2009 Anjlok 95,16%

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melaporkan penurunan laba bersih signifikan sepanjang 2009 sekitar US$190,448 juta atau anjlok 95,16% dari perolehan sebelumnya mencapai US$371,690 juta.
Demikian penjelasan manajemen BUMI dalam keterangan resminya, Senin (5/4).
Anjloknya laba bersih perusahaan tambang batubara ini lantaran turunnya pendapatan perseroan sekitar 4,70% dari US$3,378 miliar kini menjadi US$3,219 miliar, diakibatkan beban pokok penjualannya meningkat 19,83% dari US$1,765 miliar menjadi US$2,115 miliar. Hal ini menyebabkan laba kotor perseroan turun tipis 31,57% dari US$1,512 miliar kini menjadi US$1,103 miliar.
Walaupun beban pokok penjualan meningkat, namun perseroan berhasil menurunkan beban usaha penjualan sekitar 26,70% dari US$373,224 juta menjaid US$272,574 juta. Sehingga jumlah beban usaha pun menurun sekitar 8,82% dari US$510,520 juta menjadi US$465,447 juta.
"Walaupun laba usaha kami anjlok, namun perseroan berhasil memperoleh untung kurs sekitar US$57,107 juta ketimbang tahun 2008 merugi sekitar US$67,401 juta," tulis manajemen BUMI.
BUMI juga mencatat mengalami rugi derivatif hingga US$63,367 juta. Pinjaman jangka pendek pun naik hingga US$400 juta ketimbang pada 2008 hanya US$80 juta. Utang usaha pun naik dari US$114,992 juta menjadi US$279,634 juta. Namun, utang pajak BUMI tinggal US$216,877 juta dari US$605,228 juta.
"Aset perseroan naik dari US$5,234 miliar kini menjadi US$7,410 miliar," tulisnya.
Bumi Resources juga menargetkan volume penjualan batubara sebanyak 64 juta ton di 2010 atau naik 9,61% dari 2009 sebanyak 58,39 juta ton. Tercatat, hingga triwulan I-2010, perseroan telah menjual 16 juta ton batubara. Pada 2009, volume penjualan batubara BUMI tercatat sebanyak 58,39 juta ton. Artinya, pertumbuhan volume penjualan akan sebesar 9,61% di 2010. [san/cms]

Untung Kurs Rp 230M, Laba Bersih MNCN 2009 Naik 130,97%

PT Media Citra Nusantara Tbk (MNCN) mencetak pertumbuhan laba bersih sebesar 130,97% di 2009, terutama didorong oleh kenaikan pendapatan iklan dan perolehan keuntungan kurs sebesar Rp 230,193 miliar.

Demikian disampaikan dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, Senin (5/4/2010).

Hingga akhir 2009, MNC mencetak pendapatan sebesar Rp 3,923 triliun, naik tipis 0,05% dari tahun 2008 sebesar Rp 3,921 triliun. Beban usaha meningkat tipis 1,19% menjadi Rp 3,316 triliun dari sebelumnya Rp 3,277 triliun.

Laba usaha pun menurun tipis 5,79% menjadi Rp 607,224 miliar dari sebelumnya Rp 644,563 miliar. Untungnya, perseroan berhasil memperoleh keuntungan kurs sebesar Rp 230,193 miliar, sehingga beban lain-lain dapat ditekan 88,58% menjadi Rp 46,672 miliar dari sebelumnya Rp 408,893 miliar.

Perolehan itu membuat laba bersih MNC meningkat tajam 130,97% menjadi Rp 385,617 miliar, dari sebelumnya Rp 166,955 miliar. Laba bersih per saham pun meningkat menjadi Rp 28 per saham dari sebelumnya Rp 12 per saham.

Harga saham MNC pekan kemarin ditutup di level Rp 320 per saham. Itu berarti rasio harga saham terhadap laba per saham (PER) menurun menjadi 11,42 kali, lebih murah ketimbang sebelumnya 26,66 kali.

Sementara itu, selama 2 bulan pertama di tahun 2010, MNC telah berhasil melampaui kinerjanya sepanjang sejarah dengan kenaikan pendapatan sebesar 33% (yoy) menjadi Rp 640 miliar, dibanding perolehan pendapatan pada perioe yang sama 2009 yang sebeasr Rp 480 miliar.

Laba usaha perseroan tercatat meningkat sebesar 217% (yoy) menjadi Rp 190 miliar dari Rp 60 miliar pada periode yang sama tahun 2009. EBITDA perseroan juga telah meningkat sebesar 144% (yoy) menjadi Rp 220 miliar. Tidak hanya itu, laba bersih preseroan pun meningkat sebesar 186% (yoy) menjadi Rp 120 miliar jika dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu dimana MNC mencetak rugi bersih sebesar Rp 140 miliar.

"Selama 2 bulan pertama di tahun 2010, MNC telah menunjukkan kinerja yang lebih baik jika dibandingkan dengan angka yang telah dianggarkan." ujar Direktur Utama MNC, Hary Tanoesoedibjo dalam siaran persnya.

Peningkatan kinerja selama dua bulan pertama 2010 tersebut, jelas Hary, disebabkan oleh membaiknya kinerja anak usaha-anak usaha perseroan. Pada 2 bulan pertama di tahun 2010, ketiga stasiun free-to-air (FTA) TV telah menunjukkan peningkatan pangsa pemirsa. RCTI telah berhasil mempertahankan posisinya di nomor 1 dengan rata-rata pangsa pemirsa antara 18-20%. P

angsa pemirsa TPI telah meningkat menjadi 11% dari rata-rata 9%. Dan, pangsa pemirsa Global TV meningkat menjadi 8% dari 6%. Peningkatan pada pangsa pemirsa disebabkan juga oleh karena perbaikan pada jangkauan serta kualitas penerimaan siaran di TPI dan Global TV. MNC telah memfokuskan diri pada pengembangan program in-house dan strategi tersebut telah memberikan hasil yang memuaskan.

Saat ini program in-house merupakan sumber pendapatan yang penting untuk RCTI. Program in-house yang menyerap belanja iklan yang besar adalah seperti pertunjukkan “The Masters” dan program musik “Dashyat” yang memakan biaya yang relatif lebih murah dan menghasilkan rating yang tinggi dan tingkat pengembalian yang tinggi pula.

Di media cetak, koran harian Seputar Indonesia telah mencatatkan EBITDA dan laba usaha positif yang pertama kali di tahun 2009 dan telah melanjutkan penguatan kinerja pada dua bulan pertama di tahun 2010

“Selama 2 bulan pertama di tahun 2010, MNC telah berhasil melampaui kinerjanya sepanjang sejarah. Dengan rekor kinerja yang sangat baik pada 2 bulan pertama di tahun 2010, kami sangat yakin bahwa MNC akan memberikan kinerja yang lebih baik di tahun fiskal 2010” pungkas Hary.

IHSG capai Rekor tertinggi Close 2887 sempat 2890