Wednesday, March 31, 2010

CP Prima Menderita Rugi Bersih 46,66%

PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO) mengalami penurunan rugi bersih konsolidasi sepanjang 2009 sekitar 46,66% menjadi Rp217,171 miliar dari kerugian tahun lalu sebesar Rp407,182 miliar.
Demikian penjelasan resmi manajemen CP Prima di Jakarta, Rabu (31/3).
Kerugian CP Prima ini lantaran penjualan udang perseroan anjlok 16,06% menjadi Rp6,832 triliun dari pencapaian sebelumnya sekitar Rp8,169 triliun, namun beban pokoknya berhasil ditekan sekitar 9,50% dari Rp6,626 triliun menjadi Rp5,996 triliun. Sehingga perseroan pun mengalami rugi usaha sekitar Rp189,766 miliar dibandingkan sebelumnya untung Rp529,897 miliar.
"Namun CP Prima berhasil meraih untung kurs sekitar Rp563,819 miliar ketimbnag sebelumnya meraih rugi kurs Rp673,195 miliar," urai manajemen CP Prima.
Perseroan pun ternyata mengumpulkan beban pajak sekitar Rp13,376 miliar dari sebelumnya rugi Rp99,751 miliar. Sehingga utang pajaknya pun naik dari Rp15,045 miliar menjadi Rp17,087 miliar. Dengan beban yang harus dibayar pun bertambah 140,90% menjadi Rp255,434 miliar dari Rp106,031 miliar.

Laba Bersih BEI Melejit 102,89%

Sepanjang 2009, PT Bursa Efek Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih melonjak 102,89% menjadi Rp58,306 miliar dibandingkan tahun sebelumnya yang merugi Rp2,013 triliun.
Demikian keterangan resmi BEI dalam keterbukaan informasi di Jakarta, Kamis (31/3).
BEI mencatat berubahnya rugi bersih menjadi laba bersih ditopang pendapatan bunga yang berkontribusi 996,48% menjadi Rp870,365 miliar dibandingkan periode sebelumnya hanya Rp79,378 miliar. Sehingga mendorong jumlah pendapatan lain-lain meningkat dari tugi Rp6,514 miliar menjadi untung Rp372,530 miliar.
Sayang, pendapatan usaha BEI menurun tipis 5,58% dari Rp17,261 miliar menjadi Rp16,291 miliar, namun beban pokok penjualannya pun turun tipis 4,19% dari Rp13,863 miliar menjad iRp13,281 miliar. Sayang laba kotornya turun dari Rp3,398 miliar menjadi Rp3,010 miliar.
Menyoal utang, BEI masih membukukan kenaikan utang usaha dari Rp1,300 miliar, kini menjadi Rp1,132 miliar, bahkan bunga yang masih harus dibayar BEI bertambah 76,01% dari Rp396,331 miliar menjadi Rp697,584 miliar. Sedangkan pinjaman dari pemegang saham pun sebesar Rp14,027 miliar.

2009, Bukit Darmo Bukukan Rugi Bersih Rp 7,163 Miliar

PT Bukit Darmo Property Tbk (BKDP) membukukan rugi bersih tahun buku 2009 sekitar Rp 7,163 miliar. Padahal,  tahun sebelumnya perseroan meraih laba bersih Rp 828 juta.
 
Keterangan resmi manajemen Bukit Darmo kepada orotitas bursa, Selasa (30/3), menyebutkan, kerugian bersih perseroan diakibatkan oleh anjloknya penjualan bersih sekitar 84,56% menjadi Rp 31,173 miliar dari pencapaian tahun sebelumnya Rp 195,482 miliar. Namun, beban pokok penjualan berhasil ditekan sekitar 87,34%, yakni dari Rp 168,291 miliar menjadi Rp 21,290 miliar.
 
Untuk utang usaha, perseroan berhasil menekan sejumlah beban antara lain beban usaha turun dari Rp 84,922 miliar menjadi Rp 31,245 miliar, uang jaminan pesanan pun bisa ditekan dari Rp 21,681 miliar kini menjadi Rp 9,033 miliar. Utang pajak pun berhasil turun dari Rp 1,827 miliar menjadi Rp 192,807 juta.
 
Salah satu proyek Bukit Darmo yang sedang dikerjakan di Surabaya adalah kondominium Th Adhiwangsa Golf Residence yang terintegrasi dengan pusat perbelanjaan mewah LenMarc di Surabaya Barat.

DOID Alami Rugi Bersih Bengkak 1.527%

PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) mengalami lonjakan rugi bersih sepanjang 2009 sekitar 1.527% menjadi Rp160,105 miliar dari perolehan tahun sebelumnya hanya Rp9,838 milair.
Demikina penjelasan manajemen Delta Dunia dalam keterangan tertulisnya, Rabu (31/3).
Delta Dunia menguraikan, kerugian bersih ini lantaran pendapatan bersih perseroan tergerus 33,73% menjadi 6,350 miliar dari pencapaian sebelumnya Rp9,583 miliar. Sayang, beban pokok penjualan semakin memperkeruh penurunan pendapatan dengan beban sekitar Rp4,860 miliar. Beban usaha pun kembali melonjak 5.024% dari Rp4,975 milair kini melonjak menjadi Rp254,957 miliar.
"Walaupun masih merugi bersih, namun kami berhasil mencetak untung kurs 9.310% dari Rp3,500 juta melonjak sebesar Rp329,666 miliar," demikian penjelasan manajemen.
Selain mengalami untung kurs, perseroan pun masih mencatat pertambahan nilai perseroan dengan meraih untung dari penjualan dan pelepasan aset bersih dari rugi Rp114,851 juta menjadi untung Rp20,848 miliar. Laba pra akuisisi pun mendatangkan untung sekitar Rp512,288 miliar.
Sayang perusahaan yang bergerak dalam bidang properti ini masih menyisihkan pinjaman bank yang membengkak dari Rp50 miliar kini berubah menjadi Rp321,480 miliar, utang jangka panjangnya pun menjadi Rp6,744 miliar, utang pajaknya pun naik dari Rp1,168 miliar menjadi Rp95,475 miliar

Laba Bersih TRAM Melejit 128,78%

PT Trada Maritiem Tbk (TRAM) mencatat pertumbuhan laba bersih sepanjang 2009 128,78% menjadi Rp99,947 miliar dari perolehan sebelumnya sekitar Rp43,701 miliar.
Pertumbuhan laba bersih ini lantaran dukungan dari pendapatan usaha perseroan naik tipis 5,41% dari Rp317,111 miliar menjadi Rp334,73 miliar, sehingga beban langsungnya berhasil ditekan 14,05% dari Rp220,251 miliar menjadi Rp189,293 miliar.
Ternyata perseroan masih mencatat beban pajak naik signifikan 89,27% dari Rp6,583 miliar menjadi Rp12,460 miliar.

Laba Bersih POLY Tembus Rp1,182 Triliun

Setelah mengganti nama menjadi PT Asia Pasific Fibers Tbk (POLY), laba bersih sepajang 2009 berhasil menembus angka Rp1,182 triliun dari sebelumnya merugi sekitar Rp2,120 triliun.
Demikian keterangan resmi manajemen POLY dalam keterbukaaan informasi BEI, Selasa (30/3).
Pencapaian laba bersih ini lantaran perseroan berhasil meraih untung kurs sekitar Rp1,541 triliun dibandingkan tahun sebelumnya yang merugi sekitar Rp1,614 miliar. Selain itu, perseroan berhasil menekan jumlah beban usaha 9,99% dari Rp300,406 miliar kini tinggal Rp270,395 miliar.
Peningkatan laba bersih ini pun ditopang jumlah penghasilan bersih mencapai Rp1,428 triliun dibandingkan kerugian tahun sebelumnya sekitar Rp1,670 triliun. Sehingga laba sebelum pajaknya pun naik dari rugi Rp2,188 triliun kini meraup untung sekitar Rp1,113 triliun.
Perseroan pun mencatat penurunan utang bank dari Rp563,065 miliar menjadi Rp408,047 miliar, utang terjamin pun turun dari Rp10,772 triliun menjadi Rp9,435 triliun. Begitu juga dengan pinjaman jangka pendeknya yang kembali turun dari Rp369,146 miliar menjadi Rp333,553 miliar.

Laba Bersih DUTI Melejit 428,81%

Sepanjang 2009, PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI) berhasil mencetak pertumbuhan laba bersih konsolidasi signifikan 428,81% menjadi Rp211,986 miliar ketimbang perolehan sebelumnya hanya Rp40,087 miliar.
Demikian penjelasan resmi manajemen DUTI kepada BEI, Selasa (30/3).
Melonjaknya laba bersih perusahaan property ini didukung dari perolehan untung kurs sekitar Rp5,854 milair dibandingkan tahun sebelumnya perseroan merugi kurs sekitar Rp15,354 miliar. Selain itu, beban pokok penjualan pun berhasil ditekan 24,73% dari Rp487,242 miliar menjadi Rp366,718 miliar.
Selain beban penjualan yang turun, beban pajak perseroan pun turun dari Rp58,974 miliar menjadi Rp57,877 miliar. Beban bunga pun turun dari Rp140,973 miliar menjadi Rp98,141 miliar. Penurunan pun terjadi pada pos pendapatan perseroan 5,46% dari Rp1,062 triliun menjadi Rp1,002 triliun.

Laba Bersih Bayan Resources Naik 279%

Laba Bersih PT Bayan Resources Tbk (BYAN) naik 279,04% menjadi Rp136,29 miliar di 2009 dari hanya Rp20,71 miliar di 2008.
Dari laporan keuangan Perseroan yang disampaikan ke BEI seperti dikutip INILAH.COM Rabu (31/3) dijelaskan kenaikan laba bersih yang sangat signifikan ini disebabkan adanya kenaikan pendapatan dari Rp4,88 triliun di 2008 menjadi Rp7,75 triliun di 2009.
Namun beban usaha Perseroan juga tercatat naik dari Rp738,30 miliar di 2008 menjadi Rp773,93 miliar. Tapi dengan kenaikan beban usaha ini Perseroan juga berhasil menaikkan laba usahanya menjadi Rp365,02 miliar di 2009 dari Rp201,15 miliar di 2008.
Di tahun 2009 Perseroan juga masih mencatatkan kerugian kurs sebesar Rp77,39 miliar meskipun kerugian ini turun dibanding 2008 sebesar Rp79,38 miliar. Sementara kewajiban Perseroan pada 2009 masih mencapai Rp4,7 triliun, sedang jumlah ekuitasnya mencapai Rp2,42 triliun

Laba Bersih Adaro Energy Naik 392%

PT Adaro Energy Tbk (ADRO) berhasil membukukan kenaikan laba bersih sebesar 392% di 2009, sekaligus merupakan rekor tertingginya di angka Rp4,4 triliun (US$420 juta).
Pencapaian laba bersih di 2009 ini mencapai 5 kali lipat dari laba bersih 2008 sekitar Rp887 miliar. Sementara laba bersih per saham dasar 2009 naik signifikan menjadi Rp136,5.
Dalam keterbukaannya Rabu (31/3) malam disebutkan peningkatan laba yang tajam ini dikarenakan adanya realisasi harga jual batubara yang lebih tinggi serta peningkatan volume produksi batubara, di mana pendapatan usaha naik 49% menjadi Rp26,9 triliun.
Sementara beban pokok pendapatan meningkat dengan persentase yang lebih rendah sebesar 21%, sehingga mendorong peningkatan marjin kotor dari 27% menjadi 41% di tahun 2009.
Presiden Direktur Perseroan, Garibaldi Thohir, mengatakan pihaknya menutup tahun 2009 yang sulit dan bergejolak dengan prestasi yang sangat baik dan kembali mencatat pertumbuhan produksi sehingga meningkatkan nilai tambah bagi pemegang saham. "Dengan tetap berfokus pada bisnis inti, kami dapat meningkatkan produksi secara organik setiap tahunnya sejak dimulainya produksi pada tahun 1992 dan ke depannya kami tetap akan fokus pada bisnis inti seiring pertumbuhan yang berkesinambungan menuju Adaro Energy yang lebih besar dan lebih baik,” ujarnya.
Sementara Wakil Presiden Direktur Perseroan, Ario Rachmat, mengatakan melalui kombinasi harga yang tinggi dan volume penjualan yang meningkat serta peningkatan biaya yang terkendali, Perseroan dapat mendorong kenaikan EBITDA sebesar 147% sehingga mencetak rekor baru yaitu Rp11 triliun. "Dengan arus kas dan struktur keuangan yang solid, saat ini kami sedang berkonsentrasi untuk membangun landasan yang kokoh dalam rangka menghadapi persaingan yang kompetitf di masa depan,” tukasnya.
Sementara Direktur Operasional Perseroan, Chia Ah Hoo, mengatakan sangat penting bagi Perseroan untuk memiliki operasi yang terintegrasi secara menyeluruh dari pit sampai pelabuhan. "Mengingat kondisi harga aset global yang terus mengalami penurunan, di bulan Mei 2009 kami mengakuisisi perusahaan yang bergerak di bidang tongkang dan kapal angkut (shiploding), di mana hal ini merupakan bagian akhir dari rantai pasokan batubara yang belum dikendalikan oleh perusahaan. Investasi ini telah menghasilkan," katanya

Tuesday, March 30, 2010

GDST Mengalami Kerugian Rp 150,05 miliar

PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST) mengalami kerugian. Rugi bersih yang diderita sebesar Rp 150,05 miliar di tahun 2009. Tahun sebelumnya perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 83,06 miliar. Hal ini disebabkan anjloknya pendapatan Gunawan Dianjaya di 2009 sebesar 45,66%.

Demikian laporan keuangan yang dipubikasikan perseroan Selasa 30/3. Disebutkan pendapatan Gunawan Dianjaya tercatat menurun 45,66% dari Rp 3,02 triliun pada tahun 2008 menjadi hanya Rp 1,64 triliun pada 2009.

Beban pokok penjualan yang juga ikut menurun, menjadi Rp 1,82 triliun ternyata tidak membantu kinerja laba kotor perusahaan di tahun lalu. Tercatat perseroan mengalami rugi kotor sebesar Rp 186,80 miliar. Padahal tahun sebelumnya, GDST berhasil membukukan laba kotor sebanyak Rp 559,77 miliar.

Setelah dikurangi baban usaha yang mencapai Rp 85,62 miliar, perseroan membukukan rugi usaha sebanyak Rp 273,42 miliar. Jika dibandingkan tahun sebelumnya, perseroan mencatat laba usaha sebesar Rp 417,20 miliar. Penghasilan lain-lain pun tercatat membaik, dari sebelumnya minus Rp 272,24 miliar, menjadi Rp 64,19 miliar di tahun 2009.