Saturday, March 6, 2010

INCO Bagi Dividen 216 Juta Dolar AS

Jakarta (ANTARA News) - PT International Nickel Tbk (INCO) akan membagikan dividen tahun buku 2009 sebesar 216 juta dolar AS, setelah membagikan dividen interim pada 29 Desember 2009 senilai 106 juta dolar AS.

"Dengan demikian pada 14 April 2010 perseroan akan membagikan dividen final sebesar 110 juta dolar AS," kata Sekretaris Perusahaan INCO Indra Ginting di Jakarta Jumat.

Indra mengatakan, dana untuk dividen tersebut akan diambil dari saldo laba ditahan perseroan sebesar 850 juta dolar AS.

Dia menambahkan perseroan tahun ini telah menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) senilai 257,7 juta dolar AS yang akan digunakan antara lain untuk ekspansi usaha sebesar 112,1 juta dolar AS dan modal kerja sebesar 141,3 juta dolar AS.

Menurutnya dana belanja modal itu akan dibiayai dari arus kas internal perseroan dan pinjaman dari Mizuho Bank dan Bank of Tokyo sebesar 150 juta dolar AS.

Sementara itu sepanjang 2009 penjualan INCO turun dari 1,312 miliar dolar AS pada 2008 menjadi 761 juta dolar. Hal ini juga menyebabkan laba bersihnya anjlok dari 359 juta dolar menjadi 170 juta dolar.

Dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) PT International Nickel Tbk (INCO) yang berlangsung di Jakarta Jumat memutuskan untuk mengangkat Tony Wenas (mantan Direktur PT Freeport Indonesia) sebagai Direktur Utama perseroan yang menggantikan Arif Siregar.

Tuesday, March 2, 2010

Laba Bersih GZCO Melonjak 273%

JAKARTA - PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) sepanjang 2009 membukukan laba bersih Rp204,39 miliar, melonjak 273 persen dibanding tahun sebelumnya Rp54,75 miliar.

Pertumbuhan laba bersih ini berasal dari peningkatan kinerja produksi dan penjualan sebesar 60 persen, hasil investasi akuisisi PT Palma Sejahtera 29 persen, dan sisanya transaksi luar usaha sebesar 11 persen. Dalam pengumuman laporan keuangan 2009 belum diaudit yang diterima harian Seputar Indonesia kemarin perseroan menjelaskan, peningkatan keuntungan bersih disebabkan bertambahnya aset yang kemudian mendongkrak pertumbuhan kinerja berupa hasil panen, produksi, dan penjualan.

Emiten yang bergerak di bidang usaha perkebunan sawit dan pengolahan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) ini total mencatat pertumbuhan aset sebesar 40 persen di 2009, yakni dari Rp1,42 triliun di 2008 menjadi Rp1,99 triliun. Pertumbuhan aset berupa lahan tertanam meningkat 69 persen dari 15.980 hektare (ha) menjadi 27.085 ha. Sementara aset berupa lahan belum tertanam tumbuh 536 persen dari 15.330 ha menjadi 97.502 ha.

Kapasitas pabrik pengolahan CPO perseroan juga meningkat 200 persen dari kapasitas tersedia 45 ton per jam menjadi 135 ton per jam. Sementara itu, volume penjualan CPO tumbuh 41 persen dari 37.000 ton menjadi 59.500 ton,sedangkan kernel naik 33 persen dari 8.500 ton menjadi 11.489 ton. ”Walaupun realisasi harga jual rata-rata per ton produk di tahun 2009 sedikit turun dibanding 2008, penurunan harga ini jauh lebih kecil dibanding peningkatan volume penjualan.

Sehingga total nilai penjualan yang dapat direalisasi tetap tumbuh 40 persen yaitu dari Rp290,71 miliar menjadi Rp407,91 miliar,” papar manajemen Gozco. Adapun dari investasi di PT Palma, Gozco mencatat pendapatan berupa bagian laba dari anak perusahaan sebesar Rp58,60 miliar atau 29 persen dari laba bersih perseroan.

Sementara kontribusi dari transaksi luar usaha diperoleh dari selisih antara beban bunga pinjaman Rp23,14 miliar dengan pendapatan bunga simpanan dana Rp13,11 miliar dan pendapatan selisih kurs dan transaksi luar usaha lainnya Rp60,97 miliar. Dari pos ini, perseroan membukukan pendapatan Rp50,95 miliar, dan setelah dikurangi taksiran pajak penghasilan badan Rp30,77 miliar dan hak minoritas Rp4,13 miliar, perseroan menambahkan Rp24,31 miliar ke laba bersihnya

Sunday, February 28, 2010

Danatama Jadi Pembeli Siaga Rights Issue SULI

Jakarta - Danatama Makmur telah dinobatkan menjadi pembeli siaga penawaran umum terbatas/rights issue PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk (SULI).
SULI berencana untuk melakukan rights issue dengan melepas jumlah saham sekitar 1,23 juta saham. Harga saham yang ditawarkan sekitar Rp100 per lembar saham dengan rasio Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) 1:1. Hal itu berarti setiap pemegang 1 saham lama akan mempunyai 1 HMETD untuk membeli 1 saham baru. Target dana yang diharapkan dari hasil rights issue ini sekitar Rp123 miliar. "Standby buyer-nya Danatama," kata Sekretaris Perusahaan SULI Hasnawiyah Kono, ketika dihubungi INILAH.COM, Jumat (26/2)
Dana hasil rights issue ini akan digunakan sebagai modal kerja, termasuk untuk bridging loan senilai US$2 juta. Hasnawiyah menjelaskan, perseroan mendapatkan dana talangan sebesar US$2 juta dan rencananya sebagian dana rights issue akan digunakan untuk membayar kembali dana talangan.
Saat ini rights issue SULI masih diproses di Badan Pengawas Pasar Modal Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). Perseroan mengharapkan telah mendapatkan ijin efektif dari Bapepam sebelum Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang diselenggarakan pada 9 Maret nanti. "Kita belum mendapatkan ijin efektif dari Bapepamuntuk rights issue, kita berharap sebelum RUPS sudah dapat ijin efektif" tutur Hasnawiyah.
Terkait kinerja keuangan perseroan 2009, Hasnawiyah mengatakan, perseroan masih mencatatkan kerugian atau penurunan pada tahun tersebut. Hal itu dikarenakan krisis keuangan global yang terjadi pada 2008. "Pasar ekspor kita sekitar 75 persen. Saat krisis terjadi pasar luar negeri pun mengurangi order sejak 2 tahun terakhir," jelas Hasnawiyah.
Seperti pemberitaan sebelumnya, dengan adanya dana hasil perolehan rights issue ini dapat memulihkan pangsa pasar Sumalindo yang menurun karena imbas dari krisis 2008 lalu. Produksi perseroan berupa produk kayu lapis dan kayu lapis olahan dengan kapasitas 160.000 m3 dan 72.000 m3 per tahun serta produk ( Medium Density Fiberboard-papan serat berkerapatan sedang) dengan kapasitas 200.000 m3 per tahun. [mre]

Laba Bersih Antam Anjlok 59% di 2009


Foto: dok detikFinance
Jakarta - Laba bersih PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) di akhir tahun 2009 mencapai Rp 559 miliar (unaudited), anjlok 59 persen dari laba bersih tahun sebelumnya sebanyak Rp 1,368 triliun.

Seperti dikutip detikFinance dari keterbukan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (27/2/2009), penurunan laba bersih itu sejalan dengan penurunan harga komiditas yang dijual oleh perseroan.

Selain laba bersih, perusahaan plat merah itu juga mengalami penurunan pendapatan sebanyak 9,5 persen di tahun 2009 menjadi sebanyak Rp 8,680 triliun, sedangkan pada tahun 2008 sebanyak Rp 9,592 triliun.

Selain turunnya harga komoditas, turunnya pendapatan emiten berkode ANTM itu juga dipengaruhi oleh volume penjualan nikel yang lebih kecil dibandingkan tahun 2008.

Perseroan juga berencana membahas pembayaran dividen dari laba bersih tahun 2009 tersebut dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) yang akan digelar pada Mei 2010 mendatang.

Thursday, February 25, 2010

Laba Gozco melonjak empat kali lipat

JAKARTA (Bisnis.com) : Laba bersih PT Gozco Plantations Tbk untuk 2009 meningkat hampir empat kali lipat dari tahun sebelumnya.

Direktur Bisnis dan Komersial Gozco Kreisna Dewantara Gozali menyebut laba bersih Gozco 2009 mencapai Rp204 miliar. Tahun sebelumnya, perusahaan tersebut mencatatkan laba bersih Rp54,75 miliar.

“Faktor peningkat laba bersih 2009 salah satunya berasal dari hasil tambahan lahan akuisisi Palma. Beberapa lahan lainnya juga sudah masuk musim penghasilan,” kata Kreisna yang dihubungi Bisnis melalui telepon, siang ini.

Selain itu, Kreisna menjelaskan pihaknya juga mendapat keuntungan selisih kurs terkait pelunasan utang dengan BNI senilai US$25 juta. Kreisna mengatakan pada awal peminjaman nilai tukar dolar AS terhadap rupiah masih berada di kisaran Rp10.500. Sementara waktu pelunasannya, rupiah berada di kisaran Rp9.500.   

“Target laba bersih 2010 adalah Rp236 miliar. Sementara untuk target volume penjualan adalah Rp504 miliar dengan asumsi harga rata-rata CPO Rp6300 per kg,” ujar Kreisna.

Kreisna menyebut volume penjualan Gozco tahun lalu mencapai Rp408 miliar. Untuk penjualan bersih 2009 senilai Rp407 miliar. Pada 2008, penjualan bersih Gozco tercatat Rp290,79 miliar.

Ketika ditanyai apakah Gozco akan melakukan akuisisi tahun ini, Kreisna mengatakan pihak masing melihat-lihat kemungkinan yang ada. “Untuk lebih jelasnya tentang akuisisi, saya belum mau memberi komentar,” kilahnya.

Guna mendukung kinerjanya tahun ini, Gozco berencana membangun pabrik tambahan yang berlokasi di Sumatra Selatan. Gozco sendiri sudah memiliki dua pabrik yang berlokasi di Sumatra Selatan dengan kapasitas 90 ton dan pabrik di Kalimantan Tengah yang memiliki kapasitas 50 ton.

Kreisna mengatakan pembangunan pabrik tersebut akan dilaksanakan pada akhir kuartal III atau awal kuartal IV. Nantinya pabrik baru tersebut akan memiliki kapasitas 90 ton. Namun untuk pembangunan tahap awal kapasitasnya sebesar 45 ton.

“Alokasi dana untuk pembangunan pabrik baru diambil dari capex (capital expenditure) di luar akuisisi senilai Rp208 miliar. Total capex Rp250 miliar,” ujar Kreisna.

Untuk total luas lahan yang dimiliki Gozco sampai saat ini mencapai 130.000 hektare. Dari total lahan tersebut, Kreisna menyebut sudah tercapai 25.000 hektare.(faa)

ENRG Targetkan Produksi Migas Tumbuh 15%

JAKARTA. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berencana menaikkan target produksi minyak dan gas bumi (migas) hingga 15% pada tahun ini, Artinya, anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) ini mengincar produksi 20.485 barel per hari. Target ini demi memanfaatkan momentum mulai naiknya harga minyak dunia.

Investor Relations ENRG Herwin H. Hidayat mengatakan, kenaikan target tersebut akan ditopang oleh produksi blok-blok penting berisiko kecil yang terletak di Sumatera dan Kalimantan Timur. "Ada enam blok yang nantinya menjadi penopang kenaikan produksi," katanya, kemarin.

Dia merinci, keenam blok itu adalah Blok Gelam yang berlokasi di Jambi, Blok Bentu dan Korinci Baru di Riau, serta Sembrah di Kalimantan Timur. Selain itu, ENRG tetap mengandalkan produksi migas dari Blok Malaka dan Kangean.

Herwin menjelaskan, ENRG berhasil memproduksi migas sebanyak 17.813 barel per hari pada tahun lalu. Jumlah ini naik 5% dari tahun 2008. Tapi, dia tidak bisa menjelaskan jumlah produksi masing-masing dari keenam blok itu.

Sedangkan guna meningkatkan produksinya tahun ini, ENRG akan menganggarkan belanja modal (capex) sebesar US$ 100 juta. Sumber pendanaannya dari hasil penerbitan saham baru atau rights issue sekitar US$ 500 juta pada bulan ini.

Selain berupaya meningkatkan produksi, ENRG juga akan melakukan pembayaran utang ke Credit Suisse sekitar US$ 250 juta-US$ 350 juta. "Kami akan lakukan secepatnya," imbuh Herwin. Tujuannya adalah menurunkan tingkat rasio utang atau debt to equity ratio (DER) ENRG dari 1,8 kali menjadi 0,4 kali.

Selain itu, duit hasil rights issue dipakai ENRG untuk menambah kepemilikannya di Blok Masela sebanyak 10% saham atau US$ 100 juta.

Dengan segala upaya itu, ENRG berharap bisa membukukan kinerja yang apik tahun ini. Tapi, Herwin masih enggan menyebutkan perolehan pendapatan ENRG tahun 2009. "Semua masih audit. Mungkin, dua atau tiga pekan lagi bisa selesai," katanya

Tuesday, February 23, 2010

Review Saham

BHIT.JK500.00Up 95.00Up 23.46%111,930,000400.00 - 500.00

BMTR.JK325.00Up 65.00Up 25.00%230,414,000260.00 - 325.00
MNCN.JK275.00Up 40.00Up 17.02%216,028,500230.00 - 280.00
CPRO.JK52.00Up 2.00Up 4.00%223,066,50050.00 - 54.00
CTRP.JK275.00Up 15.00Up 5.77%12,560,000255.00 - 280.00
CTRS.JK570.00Up 40.00Up 7.55%18,845,500510.00 - 580.00
GDST.JK90.00Down 5.00Down 5.26%2,893,50090.00 - 94.00
KIJA.JK106.00Up 4.00Up 3.92%114,221,000101.00-106.00















Produksi ENRG Naik Rata-rata 5%

INILAH.COM, Jakarta - Energi Mega Persada (ENRG) melaporkan produksi tahun 2009 mengalami kenaikan rata-rata sebesar 5% menjadi 17.813 barrel of oil equivalent per harinya.
Hal itu dikatakan Dirut NERG, Imam Agustino dalam keterangan resmi, Selasa (23/2). "Terlepas dari beberapa kendala dalam pencapaian target produksi, ENRG berhasil membukukan kenaikan produksi dengan kinerja perusahaan lebih baik. Kami berhasil melampaui produksi yang disampaikan sebelumnya," jelasnya.
Perusahaan saat ini menargetkan produksi sebesar 15% di tahun 2010 yang didukung oleh pengembangan blok-blok pentin yang berisikokecil di Sumatera dan kalimantan Timur melalui kinerja keuangan dan ketersediaan dana yang baik. Pihaknya beruntung dengan prospek peningkatan realisasi harga jual gas perusahaan di masa depan. "Peningkaan pendapatan bersih perusahaan di masa depan akan didukung kenaikan harga jual ga dan volume produksi," tegasnya. [hid]

Thursday, February 18, 2010

Rights Issue, Saham SULI Menuju Rp100

INILAH.COM, Jakarta - Rencana PT Sumalindo Lestari jaya Tbk (SULI) melakukan rights issue senilai Rp 123,6 miliar membuat harga sahamnya terus melemah. Saat ini pun sudah melemah Rp49 ke Rp156 dari pembukaan Rp180.

Padahal dua hari lalu saham perkebunan ini masih berada di level Rp350 dan perlahan turun ke Rp205. Pada penutupan Senin kemarin saham SULI ditutup di Rp180.
Dari rumor yang beradar di pasar, perseroan akan melakukan rihgt issue di harga Rp100. Dengan demikian jauh lebih rendah dari harga pasar. Hingga pukul 10.45 WIB saham SULI diperdagangkan volume mencapai 17.747 unit saham sebanyak 1,38 miliar sebanyak 439 kali transaksi.
Rencana rights issue dengan menawarkan 1.24 miliar saham baru dilakukan untuk memperkuat modal kerja perseroan. Perseroan yang bergerak dibidang industri perkayuan akan mematok harga rights issue sekitar Rp100 per saham dengan rasio HMETD 1:1, artinya setiap pemegang 1 saham lama akan mempunyai 1 HMETD untuk membeli 1 saham baru.
Dengan adanya dana hasil perolehan rights issue ini dapat memulihkan pangsa pasar Sumalindo yang menurun lantaran imbas dari krisis 2008 lalu. Produksi perseroan berupa produk kayu lapis dan kayu lapis olahan dengan kapasitas 160.000 m3 dan 72.000 m3 pertahun serta produk MDF (Medium Density Fiberboard-papan serat berkerapatan sedang) dengan kapasitas 200.000 m3 per tahun. [hid]

Kepemilikan Bakrie di Energi Tinggal 28%

JAKARTA. Porsi kepemilikan saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) di beberapa anak usahanya selalu naik-turun. Kali ini, penurunan kepemilikan BNBR terjadi di PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Pasca penerbitan saham baru atau rights issue ENRG, kepemilikan BNBR di perusahaan minyak dan gas bumi itu tergerus sebesar 16,89%.
Herwin W. Hidayat, Investor Relations ENRG, menjelaskan, setelah rights issue 26,18 miliar saham, investor publik memiliki 70,42% saham. "Sedangkan 28,12% saham dimiliki BNBR, baik secara langsung maupun tidak langsung," katanya, kemarin. Selain itu, PT Danatama Makmur dan PT Madani Securities, selaku pembeli siaga rights issue itu, juga memiliki 1,46% saham Energi Mega.
Padahal, berdasarkan prospektus rights issue yang dipublikasikan akhir tahun lalu, BNBR masih menguasai 45,01% saham ENRG secara langsung dan tak langsung. BNBR hanya punya 0,02% saham secara langsung. Sedangkan 18,78% saham mereka miliki melalui PT Brantas Indonesia dan 26,21% saham lewat PT Kondur Indonesia. Artinya, pasca rights issue, kepemilikan BNBR di ENRG terpangkas 16,89%.
"Turunnya kepemilikan BNBR karena tidak mengeksekusi sebagian haknya," kata Herwin. Memang, sebelumnya, pada 9 Desember 2009 BNBR telah membuat pernyataan kesanggupan untuk membeli rights issue 4,9 miliar saham atau 18,84% dari total saham baru ENRG.
"BNBR telah melakukan subscription senilai Rp 912 miliar sesuai surat kesanggupannya," kata Herwin. Padahal, dengan kepemilikan 45,01% saham, harusnya BNBR membeli 11,78 miliar saham baru.
Meski BNBR tidak mengeksekusi semua haknya, kedua pembeli siaga tadi juga hanya membeli sedikit saham baru ENRG. Jadi, siapa yang memborong saham baru itu sehingga kepemilikan publik di bawah 5% naik jadi 70,42%?
Vice Presiden of Investment Bank Danatama Makmur Vicky Ganda Saputra, mengatakan, pihaknya melakukan strategic plavement dengan melepas saham baru ENRG itu ke investor asing. "Ada tujuh hingga delapan investor," katanya. Jumlah saham placement itu sebanyak 7,4 miliar saham.